Sunday, October 30, 2005

Beberapa Perkara Pembatal Amal

Beberapa Perkara Pembatal Amal

Alhamdulillah shalawat dan salam semoga tercurah atas Nabi-Nya dan hamba-Nya yang tidak ada nabi setelahnya, juga kepada keluarga dan sahabatnya. amma ba'duSesungguhnya kebahagiaan abadi adalah di surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang tidak akan didapatkan oleh seorang hamba kecuali dengan menjauhi perangi yang dianggap baik oleh sebuah jiwa akan tetapi akan menggugurkan pahala dan amalannya, Akan tetapi wahai hamba Allah, engkau berada di atas suatu ilmu yang terkumpul untuk mu di lembaran ini yang dilengkapi dengan dalil-dalil dari Al Kitab dan As-Sunnah sahihah :
1. Kufur dan syirik
Berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala "Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan perjumpaan di hari akhirat, maka gugurlah amalan-amalan mereka, dan tidaklah mereka diberi balasan kecuali dengan apa yang telah mereka perbuat (al a'raf:174) dan juga firman-Nya " dan telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu, jika kamu berbuat syirik, niscaya gugurlah amalan-amalanmu dan tentulah kamu menjadi orang yang merugi " (az zumar: 65)
2. Murtad
Berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala : " Barangsiapa yang murtad diantara kalian dari agamanya kemudian mati dakan keadaan kafir, mereka itulah yang gugur amalan-amalannya di dunia dan akhirat, dan mereka adalah penghuni neraka serta kekal di dalamnya." (Al Baqarah : 217)
3. Nifaq dan Riya'
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam" sesungguhnya dari yang saya takutkan terhadapmu adalah syirik kecil, yaitu riya” . Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman (dalam sebuah hadits qudsi) pada hari kiamat, “Jika Allah memberi balasan kepada manusia dari amalan-amalan. Maka pergilah kalian kepada amalan yang kamu berbuat ria di dunia, maka lihatlah apakah kalian mendapatkan padanya pahala" (dikeluarkan oleh Imam Ahmad dan al Baghawi dari hadits Mahmud bin Labid dengan sanad shahih menurut syarat muslim)
5. Mengungkit-ngungkit pemberian
Berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala " Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian gugurkan pahala shadaqah kalian dengan menyebut-nyebut (pemberian) dan menyakiti (hati penerima) (Al Baqarah : 264). Dan dari Abu Umamah Radiyallahu 'anhu berkata Nabi shalallahu 'alahi wasallam bersabda: " Tiga perkara yang Allah tidak akan terima penolakan dan penebusan yaitu orng yang durhaka kepada orang tua, pengungkit-ngungkit pemberian dan orang yang mendustakan takdir (dikeluarkan oleh Ibnu Abi Ashim dan Thabrany dengan sanad hasan)
6. Mendustakan Takdir
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam "Kalau seandainya Allah mengadzab penduduk langit dan bumi niscaya dia akan mengadzabnya sedang Dia tidak sedikitpun berbuat dzalim terhadap mereka, dan seandainya Dia merahmati mereka niscaya rahmat-Nya lebih baik dari amalan-amalan mereka. Seandainya seseorang menginfaqkan emas di jalan Allah sebesar Gunung Uhud, tidaklah Allah akan menerima infaq tersebut darimu sampai engkau beriman dengan takdir, dan ketahuilah bahwa apa yang (ditakdirkan) menimpamu tidak akan menyelisihimu, sedang apa yang (ditakdirkan) tidak menimpamu maka tida akan menimpamu, kalau seandainya engkau mati dalam keadaab mengimanai selalin ini (tidak beriman dengan takdir), niscaya engkau masuk neraka (Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah dan Ahmad, hadits ini shahih)
7. Meninggalkan shalat Ashr
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam : “Orang yang meluputkan dari shalat ashar maka seolah-olah dia kehilangan keluarga dan hartanya (yakni tinggal sendirian tanpa harta dan keluarga), (Dari hadits Ibnu Umar, mutafaq 'alaihi), dan juga sabda beliau "Barangsiapa meninggalkan shalat ashr maka sungguh gugurlah amalannya (Bukhari dari hadits Buraidah)
8. At Ta'ly atas Allah Subhanah
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam " Sesungguhnya seseorang yang berkata, Allah tidak akan mengampuni terhadap si fulan, maka Allah berkata, Barangsiapa beranggapan atas-Ku bahwa Aku tidak akan mengampuni si fulan, maka sungguh Aku telah mengampuni si fulan, dan engkau telah menggugurkan amalanmu, atau sebagaimana beliau katakan (dikelurkan oleh Muslim dari hadtis Jundub bin Abdullah Radhiyallu anhu) At Ta'ly atas Allah yaitu : berkata tentang Allah tanpa ilmu, menyepelekan luasnya rahmat Allah dan bersumpah bahwa Allah tidak akan mengampuni terhadap seseorang.

9. Menyelisihi Rasul shalallahu 'alahihi wasallam -baik ucapan maupun amalan
Berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala : " Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian angkat suara-suaramu diatas suara Nabi dan jangan kalian mengeraskan suara kepadanya layaknya seorang diantara kalian terhadap yang lainnya, sehingga akan gugurlah amalan-amalan kalian dalam keadaan kalian tidak menyadari" (Al Ahzab : 2). Dan firman-Nya : " Hai orang-orang beriman taatlah Allah dan Rasul-Nya dan jangan kalian gugurkan amalan-amalan kalian (Muhammad: 33)
10. Berbuat bid'ah dalam agama
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam " Barang siapa membuat perkara baru dalam urusan kami ini, sesuatu yang tidak ada petunjuk agama padanya, maka itu tertolak (Mutafaq 'alaih dari hadtis Aisyah radhiyallahu 'anha) dalam riwayat Muslim disebutkan " Barangsiapa beramal dengan amalan yang bukan perintah kami maka itu tertolak "
11. Melanggar Ketentuan-ketentuan Allah di waktu sepi
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam " Sungguh aku mengetahui sebuah kaum dari umatku, mereka datang pada hari kiamat dengan kebaikan semisal gunung ................... putih, kemudian Allah jadikan seperti halnya debu yang berterbangan", berkata Tsauban, " Wahai Rasulullah, sifatkanlah tentang keadaan mereka kepada kami, dan supaya kami tidak termasuk dari mereka, dan sedang kami da;a, keadaan tidak memengetahui", Beliau bersabda "Adapun mereka itu dari saudara kalian seagama, dan dari bangsa kalian, mereka mengambil bagian dari waktu malam sebagaimana juga kalian mengambilnya, akan tetapi mereka itu adalah sebuah kaum yang jika melewati larangan Allah mereka melanggarnya (Dikeluarkan oleh ibnu MAjah dari hadits Tsauban Radhiyallahu 'anhu dan dishahihkan oleh al Mundziri dan Al Baushiri)
12. Gembira dan Bahagia dengan terbunuhnya seorang mukmin
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam " Barangsiapa membunuh seorang mukmin dan berharap akan terbunuhnya maka Allah tidak akan menerima darinya penolakan (adzab) ataupun penebusan. (dikelurkan oleh Abu Dawud dari hadits Ubadah bin shamit, hadits ini shahih).
13. Menetap di negeri-negeri kafir
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam : " Allah Azza wajalla tidak akan menerima amalan dari seorang musyrik yang masuk islam sampai memisahkan musyrikin kepada muslimin” (Dikelurkan oleh Nasai dan Ahmad dari Hadits Mu'awiya bin Hayidah radhiyallahu 'anhu dengan sanad hasan)
14 Mendatangi dukun dan tukang ramal
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam : " Barangsiapa mendatangi tukang ramal kemudian menanyakan tentang sesuatu, maka tidak diterima darinya shalat selama 40 hari (dikeluarkan oleh Muslim) dan sabdanya " Barangsiapa mendatangi tukang ramal atau dukun kemudian membenarkan apa yang dikatakan maka sungguh telah kafir kepada yang diturukan kepada Muhammad (Al Qur'an), (dikelurkan oleh Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad, dari hadits Abu Hurairah, sahih)
15. Durhaka kepada kedua orang tua
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam " Tiga golongan yang Allah tidak akan terima dari mereka penolakan atau penebusan yaitu orang yang durhaka kepada kedua orang tua, pengungkit pemberian, dan pendusta takdir” (telah berlalu takhrijnya dipoint no.5)
16. Pecandu Khamar
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam " Barangsiapa meminum khamar Allah tidak akan terima darinya shalat empat puluh hari, apabila dia taubat, maka Allah terima taubatnya, apabila dia kembali berbuat maka Allah tidak akan terima lagi shalatnya selama 40 hari, dan apabila dia taubat maka Allah tidak akan terima taubatnya, dan Allah akan memberinya minum dari sungai Khibal", dikatakan kepadanya "wahai Abu Abdiraman , apa sungai khibal tersebut, dia berkata : yaitu sungai dari nanah penduduk neraka (dikeluarkan oleh Tirmidzi dari hadits Abdullah bin Umar, dan dia shahih), dan sabda Beliau Shalallahu Alaihi Wa Sallam "Pecandu khamr, jika mati maka akan menemui Allah seperti penyembah berhala (dikeluarkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah dari hadits Ibnu Abbas, dan baginya ada syahid (penguat) dari hadits Abu Hurairah dikeluarkan oleh Ibnu Majah, secara keseluruhannya derajatnya hasan)Berkata Ibnu Hiban : Serupa makna khabar ini dengan " Barangsiapa bertemu Allah dari pecandu khamr dengan anggapan halal meminumnya, seperti penyembah berhala, karena kesamaan keduanya dalam kekufuran.
17. Berkata dusta dan beramal dengannya
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam "Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan beramal dengannya maka tidak ada kepentingan bagi Allah seseorang meninggalkan makan dan minumnya " (dikeluarkan oleh Bukhari)
18 Memelihara anjing kecuali anjing yang dididik untuk pertanian atau berburu
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam " Barangsiapa memelihara anjing, maka akan berkurang amalannya setiap hari sebear satu qiroth (dalam riwayat lain dua qiroth), kecuali anjing untuk menjaga kebun atau anjing penjaga ternak (mutafaq alaihi, dan riwayat kedua dari muslim)
19. Budak yang lari dari Tuannya, tanpa karena takut atau keletihan dalam pekerjaan, sampai dia kembali kepada tuannya

20. Istri yang durhaka sampai kembali taat terhadap suaminya
Berkata Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam " Dua golongan yang sungguh sangat merugi yaitu seorang hamba yang lari dari tuannya sampai kembali kepada mereka dan seorang istri yang maksiat terhadap suaminya sampai dia kembali kepadanya (dikeluarkan oleh Hakim dan Thabrany dalam as shaghir, shahih)
21. Pemimpin Yang dibenci Kaumnya
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam " Tiga golongan yang sangat merugi yaitu seorang budak yang lari dari tuannya sampai dia kembali, seorang wanita yang bermalam dengan suaminya dalam keadaan (suami) murka padanya, dan seorang pemimpin yang dibenci kaumnya” (Dikeluarkan dan dihasankan oleh Tirmidzi) Berkata Tirmidzi : " Sekelompok orang dari ahli ilmu membenci seseorang untuk memimpin sebuah kaum, yang mereka benci padanya. Apabila imam itu tidak dzalim, maka sesungguhnya dosa itu atas yang membencinya. Dinukilkan dari Manshur: Kami bertanya tentang perkara imam, maka dikatakan kepada kami: Pemimpin-pemimpin yang dzalim itu sangat menyusahkan, dan adapun yang menegakkan sunnah maka sesungguhnya dosa bagi siapa yang membencinya.”
22. Seorang muslim memboikot saudaranya muslim tanpa udzur syar'ie
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam " Dibukakan pintu-pintu surga pada hari Senin dan Kamis dan diampunkan bagi setiap hamba yang tidak mensekutukan Allah dengan sesuatupun kecuali seseorang yang antara dia dan saudaranya ada kebencian” Beliau berkata, " perhatikanlah keduanya oleh kalian sampai mereka kembali rukun, perhatikanlah keduanya oleh kalian sampai mereka kembali rukun, perhatikanlah keduanya oleh kalian sampai mereka kembali rukun.” (Dikeluarkan oleh Muslim dari hadits Abu Hurairah)
Wakhai saudara seislam, ini adalah perbuatan-perbuatan yang dapat menggugurkan amalan-amalan, berada di depanmmu. Dan bahayanya terhadap agamamu sangat jelas, maka jauhilah perkara tersebut dan berhati-hatilah darinya, dan hendaklah hatimu tetap berharap kepada sesuatu yang memberi manfaat kepadamu di dunia dan akhirat, karena setaip hati butuh kepada tarbiyah supaya suci dan terus bertambah suci hingga sampai usia lanjut sempurnalah dan baiklah ia.
Ya Allah yang membolak-balikan hati tetapkanlah hati-hati kami atas agama-Mu, dan janganlah Engkau palingkan kami meskipun hanya sekejap saja.

Amal Perbuatan Termasuk Iman

Amal Perbuatan Termasuk Iman

Pembahasan amal termasuk iman sangatlah layak kita tampilkan dalam rubrik AQIDAH kali ini berkaitan dengan kajian utama majalah kita, yaitu tentang Iman Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit. Hal ini disebabkan karena salah satu hujatan para Imam Jarh wat Ta’dil (kritik dan pembelaan) terhadap beliau rahimahullah dalam bidang akidah adalah ketergelinciran beliau dalam pemahaman Murjiah yang menyatakan amal bukan termasuk iman.

Hal ini ditegaskan lagi oleh Imam Abu Ahmad Abdullah bin Adi Al Jurjani (wafat tahun 365 H) dalam kitab Al Kamil Fi Dluafa’ir Rijal jilid 7 halaman 8, beliau berkata : Abdul Malik bercerita kepada kami, Yahya bin Abduka bercerita kepada kami, dia berkata : Saya mendengar Al Muqri berkata : “Abu Hanifah bercerita kepada kami dan dia adalah Murjiah.” Sambil Al Muqri mengeraskan suaranya dengan suara yang tinggi. Ditanyakan kepada Al Muqri : “Kenapa engkau meriwayatkan (hadits) darinya sedangkan dia berpaham Murjiah?” Dia menjawab : “Sesungguhnya aku menjual daging bersama tulang.” Ibnu Adi rahimahullah juga berkata : Telah bercerita kepada kami, Abdullah bin Abdul Hamid, Ibnu Abi Bazzah bercerita kepada kami, aku mendengar Al Muqri berkata : “Abu Hanifah bercerita kepadaku dan dia berpemahaman Murjiah. Dia menyeru aku kepada pemahaman Murjiah tetapi aku menolaknya.”

Ucapan Ibnu Adi tersebut juga dinukil oleh Syaikh Abu Abdirrahman Muqbil bin Hadi Al Wadi’i dalam kitabnya Nasyrus Shahifah Fi Dzikris Shahih Min Aqwal Aimmatil Jarh Wat Ta’dil Fi Abi Hanifah halaman 302.

Pemahaman beliau tersebut juga diikuti oleh orang-orang yang mengikuti madzhab beliau, madzhab Hanafiyah. Di antaranya, Imam Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad Ath Thahawi (wafat tahun 321 H). Beliau mengatakan dalam Aqidah Thahawiyah : “Iman adalah ikrar dengan lisan dan membenarkan dengan hati.” Bahkan Imam Ibnu Abil Izzi Al Hanafi (wafat tahun 792 H) berusaha membela pendapat tersebut dalam Syarah Aqidah Thahawiyah pada halaman 33 dari kitab tersebut (cetakan Maktabatil Islami, tahun 1988 M), beliau menegaskan bahwa perselisihan antara Abu Hanifah dengan imam-imam lainnya dari kalangan Ahlus Sunnah adalah semata-mata perselisihan secara lafadh, tidak mengakibatkan kerusakan pada i’tiqad (keyakinan).

Pernyataan tersebut disanggah oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah dalam ta’liq (catatan kaki) beliau terhadap Aqidah Thahawiyah. Beliau menyatakan pada halaman 22, cetakan Maktabah As Sunnah : “Perselisihan antara mereka (kaum Murjiah) dengan Ahlus Sunnah dalam masalah iman bukan semata-mata (perselisihan) secara lafadh bahkan mencakup perselisihan secara lafadh dan makna yang mengakibatkan berbagai hukum yang hanya dipahami oleh orang yang men-tadabbur ucapan Ahlus Sunnah dan ucapan Murjiah, wallahu musta’an.”

Pernyataan senada juga diterangkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani dalam syarah dan ta’liq atas Aqidah Thahawiyah halaman 42-43.

Perselisihan umat tentang permasalahan iman terbagi menjadi empat pendapat. Pertama, Ahlus Sunnah mengatakan iman adalah ucapan, amal, dan i’tiqad. Kedua, Murjiah mengatakan iman adalah ikrar dengan lisan dan membenarkan dengan hati. Ketiga, Karamiyyah mengatakan iman adalah ikrar dengan lisan. Keempat, Jahmiyah mengatakan iman adalah mengetahui dengan hati. (Syarah Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah Wal Jamaah, cetakan Darut Thayyibah 2/830)

Ketiga pendapat terakhir --yaitu yang tidak menyertakan amal sebagai bagian dari iman-- adalah pendapat yang bathil sebab bertentangan dengan dalil-dalil dari Al Kitab dan As Sunnah serta ijma’ para ulama Salaf.

Dalil-Dalil Yang Menunjukkan Amal Termasuk Iman
Berikut kita bawakan dalil-dalil yang menunjukkan kebenaran madzhab pertama, Ahlus Sunnah wal Jamaah. Di antaranya :
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami adalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat Kami mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Tuhan-Nya sedang mereka tidak menyombongkan diri.” (As Sajdah : 15)

Allah menafikan keimanan dari selain mereka. Maka barangsiapa dibacakan Al Qur’an kepadanya kemudian tidak melakukan apa yang diwajibkan Allah yaitu sujud (shalat, red.), dia tidak tergolong orang-orang Mukminin karena sujud dalam shalat lima waktu adalah wajib menurut kesepakatan kaum Muslimin. Adapun sujud tilawah, masih terdapat perselisihan padanya[1].

Di ayat lain Allah Ta’ala berfirman :
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah mereka bertawakal. Yaitu orang-orang yang mendirikan shalat dan orang yang menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya … .” (Al Anfal : 2-4)

Dalam ayat tersebut Allah menyebut sifat-sifat orang Mukmin dalam bentuk amal. Hal ini menunjukkan bahwa amal termasuk iman.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka) atau kedatangan Tuhanmu atau kedatangan sebagian tanda-tanda Tuhanmu. Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi keimanan seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman itu atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah : “Tunggulah olehmu, sesungguhnya kami pun menunggu (pula).” (Al An’am : 158)

Seperti itulah Allah menegaskan dalam firman-Nya bahwa keimanan orang-orang kafir, orang-orang yang mendustakan Rasul-Rasul-Nya, orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Nya dan orang-orang yang menghalangi dari jalan-Nya, tidaklah bermanfaat ketika muncul tanda-tanda hari kiamat bagi mereka yang tidak beriman sebelumnya serta tidak melakukan amalan-amalan kebaikan di masa imannya. Ayat ini juga menunjukkan bahwa seluruh amal shalih termasuk bagian dari iman. Dan banyak lagi ayat-ayat lain yang menjadi dalil bahwa amal adalah bagian dari iman.

Sedangkan dalil-dalil dari sunnah, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda kepada tamu rombongan Abdul Qais :
“Aku memerintahkan kalian dengan empat perkara : Beriman kepada Allah semata. Apakah kalian mengetahui iman itu apa? Bersyahadat bahwa tidak ada ilah yang berhak kecuali Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadlan, dan kalian memberikan khumus (seperlima) dari rampasan perang.” (HR. Bukhari 523 dan Muslim 17 dari Ibnu Abbas radliyallahu 'anhu)

Dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam beliau bersabda :
“Iman itu tujuh puluh lebih atau enam puluh lebih cabang. Paling utamanya adalah ucapan lailaha illallah. Dan paling rendahnya adalah menyingkirkan duri dari jalan. Dan malu termasuk cabang dari iman.” (HR. Bukhari 9 dan Muslim 35)

Dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam beliau bersabda :
“Seorang pezina tidak akan berzina sedang ia dalam keadaan beriman. Seorang peminum tidak akan minum khamr sedang ia dalam keadaan beriman. Dan seorang pencuri tidak akan mencuri sedang ia dalam keadaan beriman.” (HR. Bukhari 2475 dan Muslim 57)

Seandainya meninggalkan dosa-dosa besar tersebut bukan termasuk iman niscaya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam tidak menafikan kesempurnaan iman setiap pelaku dosa besar itu.
Imam Syafi’i rahimahullah menyatakan : “Demikian halnya para Salafus Shalih dari kalangan shahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in seluruhnya sepakat bahwa iman adalah ucapan, amal, dan niat (i’tiqad) dan bahwasanya amal termasuk bagian dari iman[2].”
Bahkan mereka mengingkari dengan keras orang yang mengeluarkan amalan dari iman. Di antara yang mengingkari hal itu dan menganggapnya sebagai perkataan bid’ah adalah : Sa’id bin Jubair, Maimun bin Mihran, Qatadah, Ayyub As Sikhtiyani, An Nakhai, Az Zuhri, Ibrahim, Yahya bin Abi Katsir, dan lain-lain.

Imam Ats Tsauri berkata : “Pendapat itu adalah pendapat bid’ah. Kami mendapatkan manusia (para shahabat) berpendapat lain.”
Imam Al Auza’i berkata : “Orang-orang terdahulu dari kalangan Salaf (shahabat) tidak memisahkan antara amal dengan iman.”
Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepada penduduk beberapa negeri : “Amma ba’du, sesungguhnya iman memiliki kewajiban-kewajiban dan syariat-syariat. Barangsiapa menyempurnakannya berarti imannya telah sempurna. Dan barangsiapa belum menyempurnakannya berarti imannya belum sempurna[3].”
Syubhat Dan Jawabannya
Kalau dikatakan : “Dalam hadits Jibril (HR. Muslim nomor 8), Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam memisahkan antara Islam dan iman dan menjadikan seluruh amalan-amalan bagian dari Islam bukan dari iman.”
Syubhat tersebut sesungguhnya telah dijawab oleh Al Imam Al Hafidh Abu Faraj Ibnu Rajab Al Hanbali dalam Jami’ul Ulum wal Hikam
[4], beliau berkata :
“Adapun metode menjama’ nash-nash (yang telah lewat, pent.) dengan hadits pertanyaan Jibril ‘Alaihis Salam tentang Islam dan iman, pemisalan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam antara keduanya dan beliau memasukkan amalan-amalan bagian dari Islam, bukan bagian dari iman sesungguhnya akan jelas jika mengikuti suatu kaidah ushul yaitu di antara nama-nama itu ada yang mencakup berbagai perkara ketika berdiri sendiri dan tidak berkaitan dengan yang lain. Ketika dikaitkan dengan nama lain maka nama tersebut hanya menunjukkan sebagian perkara saja, sedangkan nama yang dikaitkan dengannya menunjukkan sisanya, seperti fakir dan miskin. Jika salah satu dari keduanya berdiri sendiri maka setiap orang yang butuh termasuk padanya. Namun jika keduanya dikaitkan maka salah satu nama tersebut menunjukkan sebagian dari jenis-jenis orang yang memiliki hajat dan selebihnya untuk yang lain.

Demikian halnya nama Islam dan iman. Jika salah satu dari keduanya berdiri sendiri maka yang lain termasuk padanya. Salah satu dari keduanya menunjukkan yang lain ketika berdiri sendiri. Namun apabila keduanya digabungkan maka salah satu dari keduanya menunjukkan sebagian apa yang ditunjukkan ketika berdiri sendiri dan selebihnya untuk yang lain.

Penjelasan semacam ini telah ditegaskan oleh sejumlah ulama, di antaranya adalah Abu Bakar Al Ismaili (wafat tahun 371 H). Beliau mengatakan dalam suratnya kepada penduduk suatu gunung : “Kebanyakan dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah berkata : Sesungguhnya iman itu adalah ucapan dan amal dan Islam adalah perbuatan yang diwajibkan Allah atas manusia untuk dikerjakan. Jika setiap nama disebutkan menurut definisinya masing-masing kemudian bergabung dengan nama lain, --seperti ucapan : Seluruh kaum Muslimin dan Mukminin-- maka makna yang diinginkan dari salah satunya berbeda dengan yang diinginkan pada yang lain. Tetapi jika disebut satu saja dari dua nama itu maka mereka seluruhnya tercakup (artinya pengertian Muslim tercakup di dalamnya kalau disebutkan hanya kata Mukmin saja, ed.).”

Sebagai bukti atas kebenaran penjelasan itu, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menafsirkan iman ketika disebutkan berdiri sendiri pada hadits tentang tamu rombongan Abdul Qais (yang telah lewat) --seperti penafsiran beliau terhadap Islam yang dikaitkan dengan iman dalam hadits Jibril. Sebaliknya, beliau menafsirkan Islam dengan penafsiran iman dalam hadits lain. Hal ini bisa dilihat dalam Musnad Imam Ahmad[5] dari Amr bin Unaisah radliyallahu 'anhu, dia berkata :
Seseorang datang kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, kemudian berkata : “Wahai Rasulullah, apakah Islam itu?” Beliau bersabda : “Engkau menyerahkan hatimu untuk Allah dan kaum Muslimin selamat dari lisan (kata-katamu) dan tanganmu.” Dia bertanya lagi : “Islam yang manakah yang lebih utama?” Beliau bersabda : “Iman.” Dia bertanya : “Apakah iman itu?” Beliau bersabda : “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan kebangkitan setelah mati.” Dia bertanya : “Amalan manakah yang lebih utama?” Beliau bersabda : “Engkau meninggalkan kejelekan.” Dia bertanya : “Hijrah mana yang lebih utama?” Beliau bersabda : “Berjihad.”

Pada hadits di atas, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menjadikan iman sebaik-baik Islam. Dan beliau memasukkan amalan-amalan sebagai bagian dari iman.

Dengan rincian ini, jelaslah permasalahan iman dan Islam, apakah keduanya mempunyai satu makna atau berbeda.

Sesungguhnya Ahlus Sunnah dan hadits juga berselisih pendapat dalam masalah ini, sehingga mereka membuat berbagai tulisan menyangkut permasalahan tersebut. Ada yang menyatakan bahwa keduanya (iman dan Islam) satu makna dan ini sesuai dengan jumhur ulama. Di antara mereka adalah : Muhammad bin Nashr Al Marwazi dan Ibnu Abdil Bar. Ucapan ini juga diriwayatkan dari Sufyan Ats Tsauri dari riwayat Ayyub bin Suwaid Ar Ramali dari Sufyan, cuma rawi Ayyub memiliki kelemahan.

Ada pula yang meriwayatkan dari Ahlus Sunnah bahwa keduanya berbeda makna. Seperti Abu Bakar bin As Sam’an dan lain-lain. Di antara kaum Salaf yang menyatakan tentang perbedaan ini adalah : Qatadah, Dawud bin Abi Hind, Abu Ja’far Al Baqir, Az Zuhri, Hammad bin Zaid, Ibnu Mahdi, Syuraik, Ibnu Abi Zi’bin, Ahmad bin Hanbal, Abu Khaitsamah, Yahya bin Ma’in, dan lain-lain, walaupun alasan pembedaannya berlainan. Al Hasan (Al Bashri) dan Ibnu Sirin berkata bahwa seseorang itu Muslim dan keduanya enggan menyatakan Mukmin.

Tetapi dengan penjelasan yang kami (Ibnu Rajab) sebutkan, perbedaan itu terselesaikan. Maka dikatakan : “Jika Islam dan iman disebutkan dalam keadaan sendiri-sendiri maka tidak ada perbedaan di antara keduanya, sedangkan jika digabungkan maka keduanya memiliki perbedaan.”

Akibat Buruk Mengeluarkan Amal Dari Iman
Di awal telah disinggung beberapa alasan pemahaman yang menyimpang dari i’tiqad Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam masalah iman. Dari penyimpangan-penyimpangan itu akan muncul berbagai keyakinan yang mengancam akidah umat Islam, seperti ucapan Jahmiyah yang menyatakan iman adalah mengetahui dengan hati. Mereka menganggap orang-orang kafir memiliki iman, sebab Allah berfirman tentang orang-orang Quraisy :
“Sesungguhnya mereka tidak mendustakan kamu akan tetapi orang-orang yang dhalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.” (Al An’am : 33)

“Orang-orang (yahudi dan nashrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri.” (Al Baqarah : 146)

Sedangkan orang-orang Karamiyah, mereka menganggap bahwa orang-orang munafik adalah Mukmin karena iman itu --menurut mereka-- ialah ikrar (pernyataan) dengan lisan saja. Begitu pula Murjiah, mereka menganggap bahwa iman para Rasul sama dengan iman Fir’aun dan semisalnya. Iman para shahabat sama dengan iman kaum munafikin, sehingga berdasarkan seluruh ucapan sesat mereka itu gugurlah seluruh beban/perintah syariat. Sebab tidak ada perbedaan antara yang beramal dengan yang tidak beramal, yang beriman dengan yang tidak beriman di sisi mereka sama saja.

Mudah-mudahan kita dilindungi Allah Subhanahu wa Ta'ala dari berbagai penyimpangan, baik akidah maupun manhaj dan menunjuki kita ke jalan yang lurus, jalannya para Nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang shalih. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

Terkabulnya Doa Setelah Mendengar Adzan Hingga Iqamat

Terkabulnya Doa Setelah Mendengar Adzan Hingga Iqamat

Pengumandangan adzan yang terdengar lima kali sehari semalam merupakan rutinitas ibadah kaum Muslimin. Adzan yang dilantunkan oleh muadzin adalah hal yang biasa hingga masalah ini hampir‑hampir dilupakan. Bayangkan bila Anda tinggal di negeri kafir dapatkah Anda mendengar lantunan adzan sehari semalam lima kali? Sungguh, kebanyakan mereka (kaum Muslimin) tidak mensyukuri nikmat Allah yang agung ini, padahal terdapat rahasia yang besar pada adzan itu sendiri, yaitu Allah Ta'ala mengabulkan doa orang yang berdoa ketika mendengar adzan dan antara adzan dan iqamat. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Doa antara adzan dan iqamat tidak akan ditolak."
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud nomor 521, Tirmidzi nomor 521, Ibnu Sunni dalam Amalul Yaum wal Lailah nomor 101, Nasa'i 67769, Ahmad dalam Musnad-nya juz 3 nomor 155/154 dan selain mereka dari Ahli Hadits. Tirmidzi berkata: "Hadits ini hasan shahih." Syaikh Salim Al Hilali menshahihkan hadits ini dalam buku Shahihul Adzkar wadl Dlaifuha.
Imam Nawawi mengatakan: Kami telah meriwayatkan dari Sunan Abu Dawud dengan sanad shahih dari Sahl bin Sa'ad radliyallahu 'anhu, katanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Dua hal yang tidak ditolak doanya atau sedikit sekali ditolaknya. Pertama, doa ketika mendengar adzan dan kedua, doa ketika dalam keadaan kesusahan, yaitu ketika perang." (HR. Abu Dawud nomor 3540, dishahihkan oleh Al Arnauth dalam tahqiq Al Adzkar An Nawawi dan Syaikh Salim Al Hilali dalam Shahihul Adzkar wa Dlaifuha)
Abdullah bin Amr bin Al Ash radliyallahu 'anhu mengatakan bahwa seorang lelaki berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam :
"Hai Rasulullah, para muadzin memiliki keutamaan melebihi kita (yang bukan muadzin)." Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata : "Ucapkan seperti yang ia ucapkan, bila telah selesai memohonlah kepada Allah niscaya Dia akan mengabulkan permohonanmu." (HR. Abu Daud, Nasa'i nomor 44, Hibban nomor 285. Hadits ini dihasankan oleh Ibnu Hajar dalam Nataijul Afkar juz 1 halaman 378, Ibnu Hiban, dan Al Arnauth, serta dishahihkan oleh Syaikh Salim Al Hilali dalam Shahihul Adzkar Wa Dlaifuha 564)

Hadits-hadits tersebut di atas masih bersifat umum, belum menerangkan doa apa yang terkabulkan itu. Ada beberapa hadits yang membatasi keumuman itu yang menjelaskan doa apa yang terkabul jika dipanjatkan pada waktu-waktu itu. Al Imam Ash Shan'ani dalam bukunya, Subulus Salam Syarh Bulughul Maram halaman 243 mengatakan : "Hadits ini menunjukkan diterimanya doa pada tempat-tempat itu (ketika adzan dan setelahnya, pent.). Sebab yang dimaksud tidak ditolak doanya berarti dikabulkan dan dijawab (Allah), akan tetapi hadits ini bersifat umum bagi semua doa. Haruslah doa itu dibatasi keumumannya dengan hadits-hadits yang mengkhususkan, yaitu doa itu terkabul selama bukan doa yang berisi dosa atau memutus silaturahmi." Berikut ini adalah ketentuan doa yang seharusnya dibaca setelah adzan sampai iqamat :

Pertama :
Dari Sa'ad bin Abi Waqash radliyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, katanya : "Barangsiapa ketika mendengar muadzin mengucapkan, 'aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang pantas disembah kecuali Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, Muhammad itu seorang Rasul dan aku rela Islam adalah agama yang benar' maka diampuni dosanya." (HR. Muslim no. 386)

Kedua : Mengucapkan shalawat atas Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam setelah selesai menjawab adzan. Ibnul Qayyim mengatakan dalam bukunya Zadul Ma'ad : "Shalawat yang paling sempurna ialah shalawat yang beliau ajarkan kepada umatnya." (Lihat kembali shalawat pada Salafy edisi 11, Rubrik Doa)

Ketiga : Mengucapkan doa setelah bershalawat :
"Ya Allah, Rabb dakwah yang sempuma dan pujian ini, anugerahkanlah wasilah dan keutamaan pada Muhammad. Dan bangkitkanlah dia pada kedudukan yang terpuji yang telah engkau janjikan." (HR. Bukhari dalam Fathul Bari 2/94). Tidak ada tambahan : 'Innaka laa tukhliful mi'ad' pada doa ini. (Syaikh Salim Al Hilali, Bahjatun Nadhirin 2/254) (5)

Keempat : Berdoa untuk dirinya setelah pengucapan shalawat dan doa di atas, yang harus diingat bahwa Allah mengabulkan doa hamba‑hamba-Nya itu sesuai dengan kehendak‑Nya bukan menurut kehendak hamba‑hamba‑Nya. Mungkin doa yang Anda panjatkan langsung terwujud ketika itu juga atau terwujud pada lain waktu besok, lusa, atau bahkan diberikan pada hari kiamat sebagai tambahan amal shalih yang memberatkan timbangan kebaikan. Sebab doa itu sendiri ibadah, itulah makna dikabulkannya doa menurut keterangan para ulama. (Lihat keterangan ini selengkapnya di Syarah Aqidah Thahawiyah, Al Imam Abul 'Izzi Al Hanafi 458‑463)
Allahu Ta'ala A'lam.

Terkabulnya Doa Saat Sujud

Terkabulnya Doa Saat Sujud

Banyak kita jumpai dari kalangan Muslimin hanya karena ingin terkabul doanya, mencari dan mendatangi tempat-tempat keramat yang terkadang untuk menuju tempat tersebut dibutuhkan biaya dan waktu yang tidak sedikit. Padahal syariat telah mengajarkan tempat berdoa yang sah dan jauh lebih mudah ditempuh. Dalam hal ini kita perlu mencermati makna hadits Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam yang berbunyi :
“Hubungan terdekat antara seorang hamba dengan Penciptanya ialah ketika ia sujud, maka perbanyaklah doa pada (saat) itu.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

Pada riwayat lain dari Ibnu Abbas, kata beliau, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :
“Adapun saat sujud hendaklah kamu berdoa dengan sungguh-sungguh sebab ada jaminan untuk dikabulkan.” (HR. Muslim)

Maksud sujud dalam hadits di atas adalah sujud ketika berlangsungnya shalat, baik shalat wajib maupun sunnah. (Syarah Shahih Muslim 2/206 oleh Imam Nawawi)

Sebaik-baik doa adalah doa yang Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam tuntunkan kepada kita. Beliau saat sujud membaca :
“Maha Suci Rabbku Yang Maha Tinggi.” (HR. Muslim)

“Maha Suci Engkau Ya Allah, Rabb kami dan segala puji bagi-Mu. Maka ampunilah aku.” (HR. Bukhari 1/99 dan Muslim 1/350)

“Maha Suci dan Maha Bersih Rabb Malaikat-Malaikat dan Rabb Jibril.” (HR. Muslim 353 dan Abu Daud 1/230)

“Maha Suci Engkau Ya Allah dan dengan memuji bahwa tiada ilah yang pantas disembah selain Engkau.” (HR. Muslim 485)

“Ya Allah, sungguh aku berlindung dengan keridlaan-Mu dan kemarahan-Mu dengan kemaafan-Mu dari siksa-Mu dan aku berlindung dengan-Mu dari marah-Mu. Aku tidak bisa menghitung pujian atas-Mu sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri.” (HR. Muslim nomor 485 dan Nasai 2/222)

“Ya Allah, aku sujud demi Engkau. Aku beriman dengan-Mu. Aku serahkan diriku pada-Mu. Wajahku sujud demi Yang menciptakan dan membentuknya serta Yang menumbuhkan pendengaran dan penglihatannya. Maka berkah Allah sebaik-baik Dzat Pencipta.” (HR. Muslim)

“Ya Allah, ampunilah semua dosaku, dosa yang kecil dan yang besar, yang pertama maupun yang terakhir, dan yang nampak maupun yang samar.” (HR. Muslim nomor 483)

“Ya Allah, ampunilah semua kesalahanku, kebodohanku, dan kelancangan, serta dosa-dosa yang Engkau lebih mengetahui dariku. Ya Allah, ampunilah kesengajaanku yang semua itu dariku. Ya Allah, ampunilah dosa-dosa yang telah lewat maupun yang akan datang, yang aku sembunyikan dan yang aku nampakkan, Engkau sesembahanku. Tiada ilah yang pantas disembah kecuali Engkau.” (HR. Bukhari 11/166 dan 167 dan Muslim 2719)

”Ya Allah berikanlah cahaya dalam hatiku, pendengaranku, dan penglihatanku. Berikanlah samping kananku, samping kiriku, depanku, belakangku, atasku, dan bawahku cahaya, dan berikanlah aku cahaya.” (HR. Muslim nomor 479)

”Maha Suci Dzat Yang memiliki kekuasaan, kerajaan, kesombongan, dan keagungan.” (HR. Abu Daud 1/230. Dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud 1/166)

Hendaklah seseorang bersungguh-sungguh berdoa kepada Allah ketika ia sujud. Akan tetapi menurut keterangan Ibnul Qayyim Al Jauziyah dalam karya besarnya, Zadul Ma’ad, apakah perintah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam untuk bersungguh-sungguh dalam sujud dapat diartikan memperbanyak doa dalam sujud atau jika seseorang mau berdoa hendaklah berdoa ketika ia sujud?

Menurut Ibnul Qayyim rahimahullah, dua hal ini mempunyai perbedaan. Sebab ada dua pengertian doa. Pertama, doa yang bersifat pujian dan yang kedua, doa yang bersifat permintaan (masalah). Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dalam sujudnya memperbanyak doa tersebut baik yang bersifat pujian ataupun permintaan. Dan doa-doa tersebut di atas mencakup dua jenis doa. Dikabulkannya doa juga ada dua jenis, yaitu dikabulkannya doa orang yang meminta dengan balasan suatu pemberian dan dikabulkannya doa orang yang memuji dengan diberi pahala. Agaknya inilah tafsir ayat berikut (yang artinya) :

“Aku mengabulkan doa orang yang berdoa jika ia berdoa kepada-Ku.” (Al Baqarah : 187)

Yakni Allah mengabulkan dua jenis doa tersebut di atas, demikian menurut pendapat yang benar. (Zadul Ma’ad 1/235)

Jadi itulah doa-doa yang biasa diucapkan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam ketika sujud dalam shalat. Namun kebanyakan kaum Muslimin salah memahami hadits yang memerintahkan banyak sujud dan doa. Maka kita banyak melihat di antara mereka sujud lalu berdoa setelah melakukan shalat dan wirid-wirid. Ini adalah suatu kesalahan yang perlu diluruskan (yakni kesalahan sujud dengan berdoa di luar sujudnya shalat, ed.). Di saat mereka bersungguh-sungguh dalam mengamalkan sunnah ternyata salah tata cara pengamalannya. Lahaula wala quwwata illa billah.
Wallahu A’lam Bis Shawab.

SALAM DAN BERJABAT TANGAN

SALAM DAN BERJABAT TANGAN

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam beliau bersabda : “Apabila salah seorang dari kalian bertemu dengan saudaranya maka ucapkanlah salam padanya. (Kemudian) jika pohon, tembok, atau batu menghalangi keduanya dan kemudian bertemu lagi maka salamlah juga padanya.” (HR. Abu Dawud dalam As Sunan nomor 5200 sanadnya shahih dan para perawinya tsiqah. Lihat Silsilah Al Ahadits As Shahihah nomor 186)

Pada hadits ini Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam memerintahkan seorang Muslim mengucapkan salam kepada saudaranya yang Muslim jika menjumpainya. Karena salam dapat menggalang persatuan, menghilangkan rasa benci, dan mendatangkan cinta. Perintah di dalam hadits ini bersifat istihbaab yang maknanya anjuran dan ajakan, bukan wajib (lihat dalil-dalil yang memalingkan dari hukum wajib ke hukum istihbaab dalam kitab Aqdu Az Zabarjad fi Tahiyyati Ummati Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam).

Tidak dibedakan dalam mengucapkan salam tersebut antara orang yang berada di dalam ataupun di luar masjid. Bahkan sunnah yang shahihah menunjukkan disyariatkannya mengucapkan salam kepada orang yang berada di dalam masjid baik ketika shalat ataupun tidak.

Dari Ibnu Umar radliyallahu 'anhu, dia berkata : Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam keluar menuju Quba dan shalat di sana. Lalu datang orang-orang Anshar kemudian mereka mengucapkan salam kepadanya sedangkan beliau sedang shalat. Dia (Ibnu Umar) berkata : Lalu saya bertanya kepada Bilal : “Bagaimana kamu lihat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menjawab salam mereka ketika mereka mengucapkan salam kepadanya padahal dia sedang shalat?” Ibnu Umar berkata : Bilal berkata : “Begini, sambil membentangkan telapak tangannya.” Begitu pula Ja’far bin ‘Aun membentangkan tangannya dan menjadikan telapak tangannya di bawah sedangkan punggungnya di atas.” (HR. Abu Dawud dalam As Sunan nomor 927 dan Ahmad dalam Al Musnad 2/30 dengan sanad shahih atas syarat Bukhari dan Muslim. Lihat Silsilah Al Ahadits As Shahihah nomor 185).

Dua Imam, Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahuwiyah berpegang pada hadits ini. Al Marwazi berkata : [ Saya bertanya kepada Ahmad : “Apakah salam diucapkan kepada kaum yang sedang shalat?” Dia menjawab : “Ya.” Lalu beliau menyebutkan kisah Bilal ketika ditanya oleh Ibnu Umar : “Bagaimana beliau menjawab (salam)?” Dia berkata : “Dia memberi isyarat.” Ishaq juga berkata sebagaimana yang dia katakan. ] (Masa’il Al Marwazi halaman 22).

Riwayat ini dipilih oleh Al Qadli Ibnul Arabi, dia berkata : “Isyarat dalam shalat bisa jadi untuk menjawab salam atau karena suatu perkara yang tiba-tiba terjadi saat shalat juga karena kebutuhan yang mendesak bagi orang shalat. Jika untuk menjawab salam maka dalam hal ini terdapat atsar-atsar shahih seperti perbuatan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam di Quba dan selainnya. (Lihat ‘Aridlah Al Ahwadzi 2/162)

Dalil tentang disyariatkannya mengucapkan salam setelah shalat di masjid adalah hadits tentang orang yang jelek shalatnya, hadits yang terkenal (masyhur) dari Abu Hurairah :
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam masuk ke masjid. Lalu seseorang masuk dan shalat. Kemudian dia datang lalu mengucapkan salam kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Maka Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menjawab salamnya seraya berkata : “Kembalilah shalat karena sesungguhnya kamu belum shalat!” Maka orang itu kembali lalu shalat sebagaimana dia telah shalat sebelumnya. Kemudian dia datang kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Hal itu dia lakukan tiga kali. (HR. Bukhari, Muslim, dan selainnya)

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani berkata : “Dengan hadits ini, Shadiq Hasan Khan berdalil di dalam kitabnya Nuzul Al Abrar halaman 350-351 bahwa : “Jika seseorang diucapkan salam kepadanya kemudian dia mendatanginya dari dekat maka disunnahkan untuk mengucapkan salam untuk kedua dan ketiga kali padanya.”
Beliau juga berkata : “Hadits ini juga menjadi dalil disyariatkannya mengucapkan salam kepada orang di dalam masjid sebagaimana juga hadits tentang ucapan salam orang-orang Anshar kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam di Masjid Quba sebagaimana yang telah diterangkan sebelumnya. Akan tetapi kita temukan orang-orang tidak menghiraukan sunnah ini. Salah seorang mereka masuk Masjid tanpa mengucapkan salam pada orang yang berada di dalamnya karena mereka mengira bahwa hal itu makruh. Semoga apa yang kami tulis menjadi peringatan bagi mereka dan selainnya. Sedangkan peringatan itu bemanfaat bagi orang-orang yang beriman. (Silsilah Al Ahadits As Shahihah)

Jadi salam dan berjabat tangan dilakukan ketika datang atau hendak berpisah walaupun hanya sebentar. Sama saja apakah di dalam Masjid atau di luar masjid.

Akan tetapi sayang sekali, tatkala Anda mengucapkan salam kepada seseorang saat berjumpa dengan Anda setelah shalat dengan ucapan assalamu’alaikum warahmatullahi maka dengan segera dia menjawab taqabbalallah. Dia mengira telah menegakkan apa yang telah Allah wajibkan atasnya berupa kewajiban membalas salam, seolah-olah dia tidak mendengar firman Allah Ta’ala :
Apabila kamu diberi penghormatan dengan salam penghormatan maka balaslah dengan yang lebih baik atau balaslah dengan yang sebanding. Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu. (QS. An Nisa’ : 86)

Dan sebagian mereka bersegera mengucapkan pada Anda sebagai ganti dari salam dengan ucapan taqabbalallah (semoga Allah menerima amal kita) padahal Allah telah berfirman :
Salam penghormatan mereka pada hari mereka menemui-Nya ialah : “Salam.” (QS. Al Ahzab : 44)

Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :
Sebarkanlah salam di antara kalian. (HR. Muslim dalam Shahih-nya nomor 54 dan Ahmad dalam Al Musnad 2/391, 441, dan 495 serta yang selainnya)

Beliau tidak menyatakan : “Katakanlah taqabbalallah !!” Kita tidak mengetahui dari salah seorang sahabat pun atau Shalafush Shalih radliyallahu 'anhum bahwa apabila mereka selesai dari shalat menoleh ke kanan dan ke kiri untuk menjabat tangan orang di sekitarnya agar diberkahi sesudah shalat. Seandainya salah seorang dari mereka melakukan hal itu, sungguh akan dinukilkan bagi kita meskipun dengan sanad yang lemah dan ulama akan menyampaikan pada kita karena mereka terjun di semua lautan ilmu lalu menyelam pada bagian yang terdalam dan mengeluarkan hukum-hukum darinya. Mereka tidak mungkin menyepelekan sunnah Qauliyyah, Fi’liyyah, Taqririyyah atau Sifat (sabda, perbuatan, persetujuan atau sifat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam). [ Tamamu Al Kalam fi Bid’ah Al Mushafahah Ba’da As Salam halaman 24-25 dan Al Masjid fi Al Islam halaman 225 ]

Al Luknawi berkata : [ Sungguh telah tersebar dua perkara di masa kita ini pada mayoritas negeri, khususnya di negeri-negeri yang menjadi lahan subur berbagai bid’ah dan fitnah, yaitu :
1. Mereka tidak mengucapkan salam ketika masuk masjid waktu shalat Shubuh, bahkan mereka masuk dan shalat sunnah kemudian shalat fardlu. Lalu sebagian mereka mengucapkan salam atas sebagian yang lain setelah shalat dan seterusnya. Hal ini adalah perkara yang jelek karena sesungguhnya salam hanya disunnahkan tatkala bertemu sebagaimana telah ditetapkan dalam riwayat-riwayat yang shahih, bukan tatkala telah duduk.
2. Mereka berjabat tangan setelah selesai shalat Shubuh, Ashar, dan dua hari raya, serta shalat Jum’at. Padahal pensyariatan jabat tangan juga hanya di saat awal bersua. ] (As Sa’ayah fi Al Kasyfi Amma fi Syarh Al Wiqayah halaman 264).

Dari perkataan beliau dapat dipahami bahwa jabat tangan antara dua orang atau lebih yang belum bersua sebelumnya tidak ada masalah. Syaikh Al Albani berkata di dalam As Silsilah As Shahihah 1/23 : “Adapun jabat tangan setelah shalat adalah bid’ah yang tidak ada keraguan padanya, kecuali antara dua orang yang belum bersua sebelumnya. Maka hal itu adalah sunnah.”

Al Luknawi berkata setelah menyebutkan silang pendapat tentang jabat tangan setelah shalat : “Di antara yang melarang perbuatan itu ialah Ibnu Hajar Al Haitami As Syafi’i, Quthbuddin bin ‘Ala’addin Al Makki Al Hanafi, dan Al Fadlil Ar Rumi dalam Majalis Abrar menggolongkannya termasuk dari bid’ah yang jelek ketika beiau berkata : “Berjabat tangan adalah baik saat bertemu. Adapun selain saat bertemu misalnya keadaan setelah shalat Jum’at dan dua hari raya sebagaimana kebiasaan di jaman kita adalah perbuatan tanpa landasan hadits dan dalil! Padahal telah diuraikan pada tempatnya bahwa tidak ada dalil berarti tertolak dan tidak boleh taklid padanya.” (Sumber yang sama dan Ad Dienul Al Khalish 4/314, Al Madkhal 2/84, dan As Sunan wa Al Mubtada’at halaman 72 dan 87).

Beliau juga berkata : “Sesungguhnya ahli fiqih dari kelompok Hanafiyah, Syafi’iyah, dan Malikiyah menyatakan dengan tegas tentang makruh dan bid’ahnya.” Beliau berkata dalam Al Multaqath : “Makruh (tidak disukai) jabat tangan setelah shalat dalam segala hal karena shahabat tidak saling berjabat tangan setelah shalat dan bahwasanya perbuatan itu termasuk kebiasaan-kebiasaan Rafidlah.” Ibnu Hajar, seorang ulama Syafi’iyah berkata : “Apa yang dikerjakan oleh manusia berupa jabat tangan setelah shalat lima waktu adalah perkara yang dibenci, tidak ada asalanya dalam syariat.”

Dan alangkah fasihnya perkataan beliau Rahimahullah Ta’ala dari ijtihad dan ikhtiarnya. Beliau berkata : [ Pendapat saya, sesungguhnya mereka telah sepakat bahwa jabat tangan (setelah shalat) ini tidak ada asalnya dari syariat. Kemudian mereka berselisih tentang makruh atau mubah. Suatu masalah yang berputar antara makruh dan mubah harus difatwakan untuk melarangnya, karena menolak mudlarat lebih utama daripada menarik maslahah. Lalu kenapa dilakukan padahal tidak ada keutamaan mengerjakan perkara yang mubah? Sementara orang-orang yang melakukannya di jaman kita menganggapnya sebagai perkara yang baik, menjelek-jelekkan dengan sangat orang yang melarangnya, dan mereka terus-menerus dalam perkara itu. Padahal terus-menerus dalam perkara mandub (sunnah) jika berlebihan akan menghantarkan pada batas makruh. Lalu bagaimana jika terus-menerus dalam bid’ah yang tidak ada asalnya dalam syariat?!

Berdasarkan atas hal ini, maka tidak diragukan lagi makruhnya. Inilah maksud orang yang memfatwakan makruhnya. Di samping itu pemakruhan hanyalah dinukil oleh orang yang menukilnya dari pernyataan-pernyataan ulama terdahulu dan para ahli fatwa. Maka riwayat-riwayat penulis Jami’ul Barakat, Siraj Al Munir, dan Mathalib Al Mu’minin misalnya, tidaklah mampu menyamainya karena kelonggaran penulisnya dalam meneliti riwayat-riwayat telah terbukti. Dan telah diketahui oleh Jumhur Ulama bahwa mereka mengumpulkan segala yang basah dan kering (yang jelas dan yang samar). Dan yang lebih mengherankan lagi ialah penulis Khazanah Ar Riwayah tatkala ia berkata : (Nabi) ‘Alaihis Salam berkata : “Jabat tanganlah kalian setelah shalat Shubuh niscaya Allah akan menetapkan bagi kalian sepuluh (kebaikan).” Dan berkata Rasul Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam : “Berjabat tanganlah kalian setelah shalat Ashar niscaya kalian akan dibalas dengan rahmah dan pengampunan.” Sementara dia tidak memahami bahwa kedua hadits ini dan yang semisalnya adalah palsu yang dibuat-buat oleh orang-orang yang berjabat tangan itu. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. ] (As Sa’aayah fi Al Kasyfi Amma fi Syarh Al Wiqayah halaman 265)

Akhirnya sebagai penutup harus diperingatkan bahwa tidak boleh bagi seorang Muslim memutuskan tasbih (dzikir) saudaranya yang Muslim kecuali dengan sebab syar’i. Yang kami saksikan berupa gangguan terhadap kaum Muslimin ketika mereka melaksanakan dzikir-dzikir sunnah setelah shalat wajib kemudian dengan tiba-tiba mereka mengulurkan tangan untuk berjabat tangan ke kanan dan ke kiri dan seterusnya yang memaksa mereka tidak tenang dan terganggu, bukan hanya karena jabat tangan, akan tetapi karena memutuskan tasbih dan mengganggu mereka dari dzikir kepada Allah karena jabat tangan ini, padahal tidak ada sebab-sebab perjumpaan dan semisalnya. Jika permasalahannya demikian, maka bukanlah termasuk dari hikmah jika Anda menarik tangan Anda dari tangan orang di samping Anda dan menolak tangan yang terulur pada Anda. Karena sesungguhnya ini adalah sikap yang kasar yang tidak dikenal dalam Islam. Akan tetapi ambillah tangannya dengan lemah lembut dan jelaskan kepadanya kebid’ahan jabat tangan ini yang diada-adakan manusia. Betapa banyak orang yang terpikat dengan nasihat dan dia orang yang pantas dinasihati. Hanya saja ketidaktahuan telah menjerumuskannya kepada perbuatan menyelisihi sunnah. Maka wajib atas ulama dan penuntut ilmu menjelaskannya dengan baik. Bisa jadi seseorang atau penuntut ilmu bermaksud mengingkari kemungkaran tetapi tidak tepat memilih metode yang selamat. Maka dia terjerumus dalam kemungkaran yang lebih besar daripada yang diingkari sebelumnya. Maka lemah lembutlah wahai da’i-da’i Islam. Buatlah manusia mencintai kalian dengan akhlak yang baik niscaya kalian akan menguasai hati mereka dan kalian mendapati telinga yang mendengar dan hati yang penuh perhatian dari mereka. Karena tabiat manusia adalah lari dari kekasaran dan kekerasan. (Tamam Al Kalam fi Bid’ah Al Mushafahah Ba’da As Salam halaman 23)
Dikutip dari Kitab Al Qaulul Mubin fi Akhtha’il Mushallin karya Syaikh Masyhur Hasan Salman oleh Ma’mar Al Marasi.

Keutamaan, Waktu dan Bentuk Istighfar

Keutamaan, Waktu dan Bentuk Istighfar
Segala puji hanya bagi Allah rabbil ‘alamin. Shalawat dan salam semoga tetap terlimpah kepada Rasulul amin (Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam), dan kepada keluarga dan shahabatnya serta siapa saja yang mengikuti jejak beliau hingga hari kiamat. Wa ba’du.

Tulisan ini menyajikan pembahasan istighfar dan keutamaan, waktu serta bentuk-bentuknya disertai penjelasan faidah-faidah dzikir dan keutamaannya. Kami memohon kepada Allah, agar dengan tulisan ini bisa memberi manfaat.
Keutamaan istighfar
  1. Sesungguhnya istighfar merupakan manifestasi dari ketaatan kepada Allah azza wa jalla.
  2. Istighfar menjadi sebab diampuninya dosa-dosa, firman Allah ta’ala (artinya) : “Maka aku katakan kepada mereka: "Mohonlah ampun kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun" (QS. Nuuh :10)
  3. Turunnya hujan. Firman Allah (artinya) : “Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat.” (QS. Nuuh :11)
  4. Memperbanyak harta dan anak. Firman Allah (artinya) : “Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu.” (QS. Nuuh :12)
  5. Memasukkan ke surga. Firman Allah (artinya) : “Dan mengadakan untukmu surga-surga.” (QS. Nuuh :12)
  6. Menambah kekuatan dalam segala segi. Firman Allah (artinya) : “Dan Allah akan menambah kekuatan dari kekuatan yang telah ada.”
  7. Perhiasan yang baik. Firman Allah (artinya) : “Dia memberi perhiasan kepada kalian dengan perhiasan yang baik.”
  8. Menolak bala’ (musibah). Firman Allah (artinya) : “Dan tidaklah Allah menimpakan adzab kepada mereka sedang mereka meminta ampunan.”
  9. Istighfar merupakan suatu sebab untuk memberikan keutamaan bagi orang yang berhak menerimanya. Dalilnya : “Dan Dia memberi setiap orang yang memiliki keutamaan dengan keutamaannya.”
  10. Seorang hamba membutuhkan istighfar, karena mereka telah melakukan kesalahan/ dosa di malam maupun siang hari. Apabila mereka meminta ampun kepada Allah maka Allah akan memberi ampunan kepada mereka.
  11. Istighfar merupakan sebab turunnya rahmah. Firman Allah (artinya) : ”Kalau saja mereka meminta ampunan kepada Allah, sehingga dengan itu kalian termasuk orang-orang yang mendapatkan rahmah.”
  12. Istighfar merupakan pelebur kesalahan saat bermajlis.
  13. Istighfar merupakan bentuk perbuatan untuk mengikuti Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam. Beliau meminta ampun kepada Allah dalam sebuah majlis sebanyak 71 kali, dalam riwayat disebutkan 100 kali.

Pendapat-pendapat seputar istighfar
1. Diriwayatkan dari Lukman –alaihissalam- sesungguhnya dia berkata kepada anaknya : “Wahai anakku, biasakan lisanmu dengan ucapan : Allahummaghfirli (Ya Allah ampunilah aku), sesungguhnya terdapat waktu yang mana Allah tidak akan menolak dalam waktu itu orang-orang yang meminta.”
2. Aisyah berkata –radhiyallahu anha- : “Berbahagialah bagi siapa yang menjumpai lembar catatannya penuh dengan istighfar."
3. Berkata Qatadah : “Sesungguhnya Al Qur’an ini menunjuki kalian obat dan penyakit kalian. Adapun penyakit kalian adalah dosa-dosa, dan adapun obat kalian adalah istighfar.”
4. Abu Minhal berkata : “Tidak ada sesuatu yang lebih disenangi seorang hamba untuk mendampingi dirinya dalam kuburan lebih dari istighfar.”
5. Al Hasan berkata : “Perbanyaklah istighfar di rumah-rumah kalian, di saat menikmati hidangan, di jalan-jalan kalian, di pasar-pasar kalian dan di majelis-majelis kalian. Sesungguhnya kalian tidak mengetahui dimanakah ampunan itu akan turun.”
6. Berkata A’rabi : “Barangsiapa yang hidup di daerah kami hendaklah memperbanyak istighfar. Sesungguhnya qithar itu turun berbarengan istighfar.” Qithar : Awan tebal sebagai pertanda turunnya hujan.


Waktu-waktu istighfar

Istighfar disyariatkan pada setiap waktu. Akan tetapi, istighfar diwajibkan saat seseorang melakukan dosa. Istighfar disunnahkan usai melakukan amalan shaleh, seperti istighfar tiga kali selesai melakukan shalat, istighfar selesai haji dan selainnya.Disunnahkan juga istighfar waktu sahur, karena Allah ta’ala memuji orang-orang yang diampuni diwaktu sahur.

Bentuk-bentuk Istighfar
1. Sayyidul istighfar sebagai istighfar yang paling utama, yakni ucapan seorang hamba (artinya): “Ya Allah, Engkau adalah Rabbku. Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau. Engkau adalah Dzat yang menciptakanku dan aku berada diatas janji dan ancaman-Mu sebatas apa yang aku mampu. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelakan perbuatanku. Aku mengenal-Mu melalui pemberian nikmat-Mu kepadaku. Sesungguhnya aku adalah orang yang berdosa, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada Dzat yang mampu mengampuni dosa kecuali Engkau.”
2. Astaghfirullah (aku meminta ampun kepada Allah).
3. Rabbighfirli (Wahai Rabb ampunilah aku)
4. ”Ya Allah sesungguhnya aku mendzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada Dzat yang mampu mengampuni dosa kecuali Engkau.”
5. “Ya Rabb, ampunilah aku dan terimalah taubatku. Sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang menerima taubat dan Maha mengampuni,” atau (riwayat lain,) “Dzat yang Maha menerima taubat lagi maha Penyanyang.”
6. "Ya Allah, sesungguhnya aku ini mendzalimi diriku sendiri dengan banyak kedzaliman. Tidak ada Dzat yang bisa mengampuni dosa-dosa kecuali Allah, maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu. Kasihinilah aku sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang Maha Pengampun lagi Penyanyang.”

Keutamaan Berdo’a Pada Hari Jum’at

Keutamaan Berdo’a Pada Hari Jum’at

Hari Jum’at adalah hari yang paling utama dalam sepekan. Allah ta’ala telah mengkhususkan untuk kaum muslimin yang belum pernah diberikan kepada ummat-ummat sebelumnya sebagai karunia dan pemuliaan terhadap ummat ini. Pada hari tersebut terdapat ibadah-ibadah yang khusus (yang paling agung adalah Shalat Jum’at).

Di bawah ini akan disampaikan dalil-dalil yang menyebutkan keutamaannya dan sunnah-sunnah serta kewajiban yang diperintahkan dalam rangka memuliakan hari Jum’at.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radliallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah mengatakan, artinya: “Sebaik-baik hari yang terbit padanya matahari adalah hari Jum’at. Pada hari itu diciptakan Adam ‘alaihissalam, dimasukkan dan dikeluarkan dari surga pada hari itu dan kiamat akan terjadi pada hari Jum’at pula.” (HR. Muslim, Abu Dawud, Annasa’i, Tirmidzi dan dishahihkannya. Lihat Fiqhussunnah oleh Sayyid Sabiq bab Jum’ah).
Sebagaimana telah disebutkan di muka bahwa ibadah khusus yang mulia pada hari Jum’at adalah shalat Jum’at. Barangsiapa yang meninggalkannya tanpa ada alasan syar’i akan mendapatkan dosa besar adan akan diadzab dengan adzab yang pedih.

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam mengatakan tentang suatu kaum yang meninggalkan shalat Jum’at, artinya : “Sungguh aku berkeinginan untuk memerintahakan seorang laki-laki shalat bersama dengan manusia kemudian aku membakar rumah-rumah mereka yang tidak melakukan shalat Jum’at.” (HR. Muslim, Ad Darimi dan Al Baihaqi).
Dalam suatu riwayat yang bersumber dari Muhammad bin Abdurrahman bin Zahrah, aku mendengar pamanku berkata, Rasulullah bersabda, artinya : “Barangsiapa mendengan panggilan adzan pada hari Jum’at dan tidak mendatanginya, kemudian mendengar dan tidak mendatanginya, kemudian mendengar dan tidak mendatanginya, kemudian mendengar dan tidak mendatanginya, maka Allah akan menutup hatinya dan menjadikan hatinya seperti hati orang munafik.” (HR. Al Baihaqi, Abu Ya’la, dishahihkan oleh Ibnu Hajar dan Ibnu Mundzir, hadits ini dihasankan oleh Masyhur Hasan Salman dalam Al Qulul Mubin fii Akhtha’il Mushollin).
Berikut ini beberapa hal yang disunnahkan berkenaan dengan keutamaan hari Jum’at :

1. Disunnnahkan berdo’a karena berdo’a pada hari itu akan dikabulkan terutama pada waktu / saat mustajab (mudahj terkabul do’a).

Hal ini terdapat hadits bersumber dari Jabir bin Abdillah :

Dari Jabir bin Abdillah dari Raslullah bahwasanya beliau berkata, artinya : “Pada hari Jum’at ada dua belas waktu. Tidak ditemukan seorang muslim yang sedang memohon sesuatu kepada Allah ‘Azza wa jalla kecuali pasti Dia memberinya. Maka carilah waktu itu, yaitu akhir waktu setelah ‘Ashr.” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud, hadits 926 hal. 196)

Do’a yang paling disukai oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah meminta kebaikan di dunia dan akhirat dan meminta perlindungan dari neraka. Dalam suatu hadits disebutkan: “Barangsiapa yang meminta dimasukkan ke dalam surga, maka surga mengatakan : “Ya, Allah, masukkan dia ke dalam surga”. Dan barangsiapa yang meminta perlindungan dari api neraka kepada Allah subhanahu wata’ala, maka neraka akan berkata : “Ya Allah, lindungilah dia dari neraka.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jaami’ no. 6151/, lihat Shifatun Naar fil Kitab was Sunnah oleh Mahmud bin Khalifah Al Jasim).

2. Disunnahkan memperbanyak bacaan shalawat Nabi

Aus bin Aus radliyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda, artinya: “Seutama-utama hari adalah hari Jum’at. Padanya diciptakan dan dimatikannya Adam ‘alaihissalam, ditiup sangkakala dan dibinasakannya manusia. Oleh karena itu perbanyaklah shalawat atasku pada hari itu karena shalawatmu akan sampai kepadaku.” Para sahabat bertanya : ”Bagaimana bisa sampai kepadamu sedangkan jasadmu telah dimakan tanah?” Rasulullah berkata : ”Allah subhanahu wata’ala mngharamkan tanah untuk memakan jasad para Nabi.” (HR. Abu Dawud, Shahih, Lihat Shahih Sunan Abu Dawud hal. 196 hadits no. 925 oleh Syaikh Nashiruddin Al Abani)

3. Disunnahkan membaca Surat Al Kahfi pada siang atau malam harinya (Lihat Al Adzkar oleh Imam An Nawawi)

Seorang muslim yang menghafal sepuluh atau tiga ayat pertama dari surat Al Kahfi akan terjaga dari fitnah Dajjal. Juga barangsiapa yang membaca sepuluh ayat terakhir dan sepuluh ayat dari Surat Al Kahfi akan terjaga dari fitnah Dajjal. Dalilnya adalah hadits dari Abu Darda’ radliyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata : “Barangsiapa yang menghafal sepuluh ayat pertama dari Surat Al Kahfi terjaga dari fitnah Dajjal.” (HR. Muslim, Abu Dawud, Nasa’i dan Tirmidzi).
Pada lafadz Tirmidzi : “Barangsiapa menghafal tiga surat Al Kahfi akan terjaga dari fitnah Dajjal .” Dia berkata : “Hadits Hasan”. Pada hadits yang diriwayatkan dari Imam Ahmad dari Abu Darda’ radliyallahu ‘anhu bahwa Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam berkata : “Barangsiapa yang membaca sepuluh ayat terakhir dari surat Al-Kahfi akan terjaga dari fitnah Dajjal”. Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Muslim dari Nasa’i dari Qatadah radliyallahu ‘anhu.

Dan pada lafadz Nasa’i menyatakan : “Barangsiapa membaca sepuluh ayat (mana saja) dari surat Al Kahfi akan terjaga dari fitnah Dajjal.”
Pada hadits yang marfu’ (sanadnya bersambung sampai Rasulullah, ed.) dari Ali bin Abi Thalib : “Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at maka ia akan dijaga dari setiap fitnah sampai delapan hari walaupun Dajjal keluar ia akan tetap terjaga dari fitnahnya". (Lihat tafsir Ibnu Katsir Surat Al Kahfi).

Disunnahkan pula membaca surat Ali Laam Miim tanziil - assajdah dan Hal ata ‘alal insan pada shalat fajar (shubuh). Abu Hurairah mengatakan : Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membaca surat Alif Laam Miim tanziil assajdah dan Hal ata ‘alal insan pada shalat subuh hari Jum’at. (Muttafaq ‘alaih)Menurut Thabrani dari Ibnu Mas’ud bahwa Nabi terus-menerus membaca kedua surat tersebut . Menurut riwayat dari Ibnu Abbas dan Abi Hurairah radliallahu’anhuma berkata bahwa Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam membaca Surat Al Jum’ah dan Munafiqun pada hari Jum’at . (HR. Muslim).
Demikian pula Nabi membaca surat Sabbihisma dan Al Ghasyiah pada shalat Jum’at. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir surat Al-A’la dan Al Ghasyiah).Allahu ta’ala a’lam.

Keutamaan Dzikir

Keutamaan Dzikir

Pengantar
Tidak diragukan lagi bahwa amalan lisan yang paling baik adalah memperbanyak dzikir kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, bertasbih, bertahmid kepada-Nya, membaca kitab-Nya, Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wa sallam, serta memperbanyak doa dan permohonan kepada Allah Ta'ala dalam segala kebutuhan hidup beragama maupun urusan keduaniaan. Memohon ampunan dengan penuh harap disertai keimanan yang benar, ikhlas, dan tulus. Dan hendaknya bagi siapa saja yang berdzikir dan berdo'a agar selalu berusaha menghadirkan hatinya untuk mengingat keagungan dankekuasan Allah Azza wa Jalla, sehingga hanya dia yang berhak diibadahi.

Banyak sekali ayat-ayat Al Qur'an dan hadits-hadits Nabi Shalallahu 'Alaihi Wa sallam yang mengungkapkan berbagai keutamaan dzikir dan doa, kami nukilkan beberapa disini dari kitab Al Adzkar karya Imam Nawawi Rahimahullah.Dalil-dalil Tentang Keutamaan Dzikir.Allah Ta'ala berfirman (artinya) : "Dan sesungguhnya dzikir pada Allah itu lebih besar.” (QS. Al Ankabut: 45)
Artinya, dzikir hamba kepada Allah itu lebih besar dari segala sesuatu dan lebih utama dari ibadah selainnya.
"Karena itu ingatlah kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu.” (QS. Al Baqarah: 152)
"Mereka para Malaikat senantiasa bertasbih pada malam dan siang hari, tanpa merasa lelah maupun bosan.” (QS. Al Anbiya': 20)

Sedang dalam hadits Nabi Shalallahu 'Alaihi Wa sallam disebutkan dari Abu Hurairah Radhiallahu 'anhu berkata, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa sallam bersabda:
"Ada dua kalimat yang sangat ringan diucapkan oleh lisan, sangat disukai oleh Ar Rahman (Allah) dan sangat berat dalam timbangannya, yaitu: "Subhanallah wa bihamdih, subhanallahil azhiim" (Maha Suci Allah Yang Maha Agung)." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan dari Samurah bin Jundub Radhiallahu 'anhu berkata, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa sallam bersabda (artinya) :
"Ucapan-ucapan yang paling disukai Allah ada empat: "Subhanallah walhamdulillah walaa ilaaha illallah wallahu akbar". Tidak menjadi masalah dengan ucapan yang mana kamu memulainya." (HR. Muslim)

Dari dua hadits diatas, nampak jelas bagi kita bahwa meskipun bacaan dzikir-dzikir tersebut terasa ringan dibaca, namun disisi Allah ternyata amat berat timbangan pahalanya. Sehingga amat dianjurkan bagi kita untuk membiasakan diri mengucapkan dzikir, seperti tasbih, tahmid, tahlil, takbir, doa, dan istighfar pada setiap waktu, terutama pada pagi dan petang serta setelah shalat fardhu. Karena Nabi sendiri tidak pernah kering lidahnya untuk berdzikir kepada Allah. Aisyah Radhiallahu'anha menyebutkan:

“Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa sallam selalu berdzikir kepada Alah setiap saat." (HR. Muslim)

Dari Abu Malik Al Asy'ary Rahiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda (artinya) :"Menjaga kesucian (wudhu) itu separuh dari (pahala) iman, Alhamdulillah itu (pahalanya) memenuhi timbangan, dan Subhanallah wal hamdulillah keduanya bias memenuhi apa-apa yang ada diantara langit dan bumi." (HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan betapa besar pahala serta keutamaan dzikir diatas, meskipun terasa ringan untuk diucapkan. Diriwayatkan dalam shahih Bukhari dan Muslim, dari Abu Ayub Al Anshari Radhiallahu 'anhu, dari Nabi Shalallahu 'Alihi Wa sallam bersabda (artinya) :

"Barangsiapa mengucapkan 'Laa ilaaha ilallah wahdahu laa syariikalah lahul mulku walahul hamdu wahuwa 'ala kulli syai'in qadir' (Tiada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, Milik-Nya semua kerajaan dan segala pujian dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu) sebanyak 10 kali. Maka dia seolah-olah telah membebaskan empat budak dari anak (keturunan) Ismail alaihis salam."
"Seorang Arab Badui (A'rabi) dating kepada Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa sallam seraya berkata: "Ajarilah aku ucapan yang akan selalu akan kuucapkan", Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa sallam menjawab: "Katakanlah: "La ilaha illallah wahdahu laa syariika lahu, Allahu Akbar Kabira, wal hamdulillahi katsira, wa subhanallahi rabbil 'alamin, laa haula walaa quwwata illa billah al-aziz al-hakim. (tiada Ilah yang benar untuk disembah kecuali Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya, Al1lah Maha Besar dengan kebesaran-Nya, Segala puji bagi Allah dengan sebanyak-banyak pujian . Maha Suci Allah, Penguasa semesta alam. Tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana). Lalu orang itu berkata: "Itu semua ditujukan kepada Tuhanku, mana yang ditujukan umtuk diriku?" Beliau menjawab: "Katakanlah: "Allahummaghfirli warhamni wahdini warzuqni (Ya Allah ampunilah aku, berilah aku rahmat, berilah aku petunjuk, dan beri aku rizki)." (HR. Muslim)

Hadits ini juga menjadi dalil bagi disunnahkannya tawassul (menjadikan perantara) dalam berdoa kepada Allah dengan dzikir-dzikir yang masyru' (disyariatkan) seperti diatas. Banyak sudah nash-nash yang menyebutkan tentang keutamaan orang yang suka berdzikir. Bahkan dikatakan oleh Nabi Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam bahwa mereka itu merupakan orang-orang yang istimewa. Beliau bersabda:

"Telah mendahului orang-orang yang istimewa." Para shahabat bertanya: "Siapakah orang yang istimewa itu wahai rasulullah?" Beliau menjawab: "Orang-orang istimewa adalah laki-laki dan perempuan yang selalu berdzikir kepada Allah." (HR. Muslim)

Sehingga wajar saja apabila Nabi Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam menyatakan bahwa:
"Perumpamaan orang yang suka berdzikir kepada Tuhannya (Allah) dengan yang tidak berdzikir, seperti orang yang hidup dengan orang yang mati." (Yakni "mati" hatinya. -red) (HR. Bukhari)Wallahu a'lam.

Doa Masuk Masjid

Doa Masuk Masjid

Salah satu aktifitas yang dianggap remeh oleh sebagian kaum Muslimin padahal sebenarnya bernilai agung dan mendapatkan berkah ialah doa ketika melangkahkan kaki masuk ke masjid. Imam An Nawawi menerangkan bahwa bagi seorang yang masuk masjid disunnahkan mengucapkan a’udzubillahil adhim wa biwajhihil karim, wa sulthanihil qadim minas syaithanirrajim, alhamdulillah allahumma shalli wa sallim ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, Allahummaghfir li dzunubi waftah li abwaba rahmatika, lalu membaca basmalah dan melangkahkan kaki kanan terlebih dahulu.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :
Apabila salah seorang di antara kamu masuk masjid hendaklah ia mengucapkan salam atas Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, kemudian membaca doa : “Ya Allah, bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu.” Apabila keluar hendaklah berdoa : “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon karunia-Mu.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya nomor 713 dan Abu Daud dalam Sunan Abu Daud nomor hadits 466 dari Humaid. Dalam riwayat Muslim tidak disebutkan kata “falyusallim (hendaklah ia mengucapkan salam).” Lafadh ini terdapat dalam riwayat Abu Daud, Nasa’i, dan Ibnu Majah dengan sanad shahih.

Ibnu Sunni menambahkan doa tersebut dengan lafadh :
“Ya Allah, lindungilah aku dari setan yang terkutuk.”
Tambahan ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Abu Hatim, Ibnu Hibban dalam kitab Shahih mereka. Tambahan ini dishahihkan oleh Syaikh Salim Al Hilali dalam Shahih Al Adzkar wa Dlaifuha.

Dari Anas radhiallahu 'anhu, katanya :
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam apabila masuk masjid mengucapkan “Bismillah, Allahumma shalli ‘ala Muhammad (Dengan nama Allah, ya Allah berilah shalawat atas Muhammad).” Apabila keluar beliau mengucapkan : “Bismillah, Allahumma shalli ‘ala Muhammad (Dengan nama Allah, ya Allah berilah shalawat atas Muhammad).”

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Sunni dalam kitab ‘Amalul Yaum wal Lailah halaman 87 dari shahabat Anas radhiallahu 'anhu dan dilemahkan oleh Al Hafidh Ibnu Hajar dalam kitab beliau Lisanul Mizan 2/316 dan Nataijul Afkar halaman 282.

Syaikh Salim Al Hilali menerangkan bahwa hadits ini lemah sebagaimana penilaian Al Hafidh Ibnu Hajar. Akan tetapi hadits ini memiliki banyak pendukung yang saling menguatkan sehingga naik derajatnya menjadi hasan. (Shahihul Adzkar wa Dlaiful Adzkar)

Dalam buku yang sama Ibnu Sunni meriwayatkan hadits dari Abdullah bin Al Hasan dari ibunya dari neneknya, katanya : “Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bila masuk masjid memuji Allah (Alhamdulillah, pent.) dan mengucapkan basmalah serta berdoa :
“Ya Allah, aku mohon ampunan-Mu dan bukakanlah pintu-pintu rahmat-Mu. Dan bila keluar beliau mengucapkan doa : “Ya Allah, aku memohon ampunan-Mu dan bukakanlah pintu-pintu karunia-Mu.”

Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Salim Al Hilali dalam buku tersebut dengan beberapa syawahid (penguat-penguat).

Dzikir Ketika Di Dalam Masjid
Sebagaimana berdzikir ketika masuk masjid, seseorang disunnahkan pula berdzikir ketika berada di dalam masjid. Imam Nawawi menganggap sunnah memperbanyak tasbih, tahlil, tahmid, takbir, membaca Al Qur’an, hadits, ilmu fiqih, dan ilmu-ilmu syariat lainnya di dalam masjid. Hal ini didasarkan pada firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

“Bertasbihlah kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya pada waktu pagi dan petang.” (An Nur : 36)

“Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (Al Hajj : 32)

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Rabb-nya.” (Al Hajj : 30)
(Lihat Al Adzkar 61, tahqiq Al Arnauth)

Dalam kaitan ini terdapat hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam :
(Imam Nawawi mengatakan) kami telah meriwayatkan dari Buraidah katanya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda : “Sesungguhnya masjid-masjid hanyalah dibangun sesuai dengan fungsinya.” (HR. Muslim nomor 569)

Dari Anas radhiallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam berkata kepada seorang Arab Badui yang baru saja kencing di masjid :

“Sesungguhnya masjid-masjid itu bukan tempat buang air kecil dan kotoran. Sesungguhnya masjid-masjid itu hanyalah tempat berdzikir kepada Allah, shalawat, dan membaca Al Qur’an.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya nomor 285)

Orang yang duduk dalam masjid hendaknya berbuat kebaikan dan bahkan memerintahkannya atau sebaliknya mencegah dan melarang kemungkaran yang terjadi di dalam masjid. Perbuatan yang baik ini (biasa) diperintahkan di luar masjid maka perintah untuk dilaksanakan di dalam masjid lebih diutamakan mengingat kemuliaan, kebesaran, dan kehormatan masjid yang harus dijaga. Sebagian ulama Salaf menganjurkan bagi orang yang diperkirakan kurang cukup waktu untuk shalat tahiyatul masjid agar membaca subhanallah walhamdulillah wa la ilaha illallah wallahu akbar empat kali. (Al Adzkar, Imam Nawawi, tahqiq Al Arnauth, halaman 61, cetakan Darul Huda, Ar Riyadl)

Hadits-hadits dan keterangan Imam Nawawi yang telah diuraikan di atas memberikan pelajaran bagi kita tentang sunnah berdoa ketika akan masuk masjid, juga adab yang seharusnya dijaga oleh seorang yang duduk atau telah memasuki masjid Allah seperti dzikir, amar ma’ruf nahi munkar, dan lain-lain yang berkaitan dengan ketertiban dan kebersihan masjid. Dengan demikian diharapkan ibadah shalat kita akan bertambah sempurna. Allahu Ta’ala A’lam.

Doa Setelah Makan Dan Minum

Doa Setelah Makan Dan Minum

Pada bulan Syawwal, umat Islam bergembira dengan datangnya hari Iedul Fitri. Hari itu merupakan hari berbuka atau hari dilarangnya berpuasa sebagaimana Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam sabdakan :

Dari Buraidah ia berkata : “Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam tidak pergi (shalat Ied) pada hari raya Fithri hingga ia makan dan tidak makan pada hari raya Adlha hingga ia pulang.” (HR. Tirmidzi nomor 245, Ahmad nomor 33 dan 44, Ibnu Majah bab 49, Ad Darimi bab 217, Al Hakim dalam Al Mustadrak 1/294, beliau menshahihkannya, Ath Thayalisi nomor 811, Nailul Authar oleh Asy Syaukani juz 3 halaman 355, hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Al Qahthan)

Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam tidak pernah pergi pada hari raya Fithri sebelum beliau makan beberapa biji kurma dan beliau biasa memakannya dengan jumlah ganjil.

Disunnahkan mengawali makan dengan beberapa biji kurma seperti yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam :

Dari Anas radliyallahu 'anhu, ia berkata : “Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam tidak pernah pergi pada hari Iedul Fithri sehingga ia memakan beberapa biji kurma dan ia memakannya dengan jumlah ganjil.” (HR. Bukhari 2/21, Musnad Ahmad bin Hanbal 3/353, Sunanul Kubra 3/282, Misykatul Mashabih 1433, Syarhus Sunnah 306, Taghliq Ta’liq 389, Amali As Syajari 2/39, Fathul Bari 2/466, dan Mu’jamul Kabir oleh At Thabrani 2/276)

Imam As Shan’ani mengatakan, Muhallab berkata : “Hikmah makan sebelum shalat itu agar tidak ada persangkaan bahwa puasa masih berlangsung sampai shalat Ied dilangsungkan. Hal ini adalah untuk mencegah segala kemungkinan yang tidak baik.”

Ibnu Hajar Al Asqalani mengatakan bahwa hikmah disunnahkan makan kurma karena rasa manisnya berkhasiat menguatkan pandangan yang melemah karena puasa dan rasa manis itu cocok dengan iman, melembutkan perasaan, dan inilah yang lebih baik daripada lainnya. Oleh karena itu sebagian tabi’in menyunnahkan berbuka dengan yang manis-manis secara mutlak semisal madu. Beliau pun berkata : “Hikmah makan kurma dengan jumlah ganjil (yakni satu biji) memberikan isyarat kepada keesaan Allah Subhanahu wa Ta'ala.” (Subulus Salam, Imam As Shan’ani halaman 136)

Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam memerintahkan setiap kali makan membaca basmalah sebagaimana yang dikatakan oleh Umar bin Salamah radliyallahu 'anhuma, ia berkata :
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam berkata kepadaku : “Sebutlah nama Allah ketika makan dan mulailah dengan tangan kanan.” (HR. Bukhari 1/521 dan 523 dalam Fathul Bari dan Muslim 2/22)

Dari Aisyah radliyallahu 'anha, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda : “Jika salah seorang di antara kalian makan, sebutlah nama Allah pada permulaannya. Jika lupa menyebut nama Allah pada permulaannya maka ucapkanlah bismillahi awwalahu wa akhirahu.” (Hadits shahih dengan dukungan hadits-hadits lain, dikeluarkan oleh Abu Dawud 3767, At Tirmidzi 1920, An Nasa’i dalam Amalul Yaumi wal Lailah 281, Ahmad 6/207-208, Ad Darimi 2/94, Al Baihaqi 7/289, dan Al Hakim 4/158, dishahihkan oleh Syaikh Salim Al Hilali).

Pada hadits shahih yang dikeluarkan oleh Abu Dawud dari Aisyah, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam mengatakan :

“Jika salah seorang di antara kalian memakan makanan hendaklah membaca bismillah. Apabila lupa pada permulaannya hendaklah membaca bismillahi fi awwalihi wa akhirihi.” (HR. Abu Dawud 3/447, Tirmidzi 4/288, dan lihat Shahih Tirmidzi 2/127)

Al Imam An Nawawi berkata : “Para ulama bersepakat menyunnahkan pembacaan bismillah pada permulaan makan. Apabila tidak membaca bismillah karena lupa, tidak sengaja, atau tidak mampu mengucapkannya karena ada sesuatu yang menghalanginya dan tetap dalam keadaan makan, maka disunnahkan untuk membaca bismillahi awwalahu wa akhirahu atau bismillahi fi awwalihi wa akhirihi sebagaimana telah disebutkan dalam hadits di atas.

Pengucapan basmalah dalam minum air putih, susu, madu, kuah, dan minuman lainnya sama seperti ketika memakan makanan. Ulama madzhab Syafi’i dan yang lainnya menganggap sunnah mengeraskan suara ketika membaca basmalah untuk memperingatkan orang lain dan agar menjadi contoh bagi orang lain. Wallahu A’lam.” (Al Adzkar, Al Imam An Nawawi halaman 334)

Terkadang makanan yang disuguhkan kepada kita kurang mengundang selera, maka janganlah kita mencelanya. Jika suka maka makanlah dan apabila tidak suka hendaknya diam, sebagaimana yang disebutkan oleh Abu Hurairah radliyallahu 'anhu :

“Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam tidak pernah mencela makanan sama sekali. Apabila ia suka, ia memakannya dan jika tidak suka maka ditinggalkannya.” Pada riwayat Muslim : “Jika suka, memakannya, jika tidak suka beliau diam.” (HR. Bukhari dalam Fathul Bari nomor 547 dan Muslim nomor 2564)
Namun diperbolehkan mengucapkan : “Aku tidak suka makanan ini atau aku tidak terbiasa memakan makanan ini” apabila diundang untuk memakannya sebagaimana dalam hadits tentang dlab (biawak) ketika para shahabat menyuguhkan panggangan daging biawak tersebut. Lalu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menyentuhnya. Shahabat berkata : “Itu daging biawak, wahai Rasulullah!” Lalu dengan segera beliau mengangkat tangannya karena jijik. Kemudian Khalid berkata : “Apakah daging biawak haram, wahai Rasulullah?” Beliau berkata : “Tidak, dia tidak ada di daerahku.” (HR. Bukhari dalam Fathul Bari 9/543 dan Muslim nomor 1945 dari Khalid bin Al Walid radliyallahu 'anhu)

Disunnahkan pula memuji makanan yang dimakan.
Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam meminta lauk kepada para istrinya. Mereka berkata : “Kami hanya memiliki cuka.” Kemudian Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menyuruh mengambilnya lalu memakannya seraya berkata : “Sebaik-baik lauk adalah cuka.” (Dikeluarkan oleh Muslim dalam Shahih-nya nomor 1431 dan 1433)

Apabila kita kebetulan bertamu ke rumah teman/saudara dan mendapatkan suguhan, dianjurkan mendoakan kepada tuan rumah dengan doa :

"Ya Allah, berikan keberkahan (kebaikan yang terus-menerus) untuk mereka (tuan rumah) pada apa-apa yang Engkau rizkikan untuk mereka. Ampunilah dan sayangilah mereka.” (HR. Muslim 3/1615)

Demikian pula disunnahkan memberikan shalawat kepada orang yang menyerahkan zakat harta miliknya. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir surat At Taubah ayat 103)

Dari Abdillah bin Abi Aufa mengatakan, apabila suatu kaum datang kepada beliau untuk menyerahkan sedekah, beliau berdoa : “Ya Allah, berilah shalawat (yakni ampunilah mereka).” Kemudian bapakku --Abu Aufa-- membawa sedekah kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam lalu Rasulullah bersabda : “Ya Allah, berilah shalawat atas Ali (keluarga) Abi Aufa.” (HR. Muslim 1078). Ali Aufa yaitu Abu Aufa sendiri. (Lihat Mukhtashar Syarah Shahih Muslim halaman 757, Imam An Nawawi)

Setelah selesai makan disunnahkan berdoa :
“Segala puji yang banyak, baik, dan berkah bagi Allah. Engkaulah pemberi makan tidak diberi makan, tempat meminta dan mengharap. Ya Allah, Engkaulah Dzat yang tidak membutuhkan pujian.” (HR. Bukhari dari Abi Umamah, dikeluarkan oleh An Nawawi dalam Al Adzkar tahqiq Abdul Qadir Al Arnauth, halaman 339)

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda : “Barangsiapa sesudah makan mengucapkan :
‘Alhamdulillah (segala puji bagi Allah) yang telah memberi makan dan rizkiku tanpa upaya dan kekuatan dariku.’ Maka akan diampuni dosanya yang telah lewat.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari Muadz bin Anas radliyallahu 'anhu, Tirmidzi berkata : “Hadits ini hasan.” Lihat Shahih Tirmidzi 3/159)

Itulah doa-doa sebelum dan sesudah makan minum yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam untuk diamalkan sebagai ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan perwujudan rasa syukur kepada-Nya yang telah memberi kenikmatan kepada kita berupa makanan dan minuman.
Allahu Ta’ala A’lam.

Adab-Adab Ketika Minum

Adab-Adab Ketika Minum

Dalam edisi yang lalu telah dibahas tentang satu adab yang dituntunkan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam ketika minum, yakni dianjurkan untuk duduk tatkala minum. Adapun yang kami paparkan berikut ini merupakan kelanjutan dari pembahasan sebelumnya, masih tentang adab-adab ketika minum.

Bernafas Ketika Minum
Telah dijelaskan di dalam hadits yang shahih bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bernafas sebanyak tiga kali ketika beliau minum, sebagaimana yang diriwayatkan dari shahabat Anas bin Malik radhiallahu 'anhu, ia berkata :

Adalah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bernafas ketika minum sebanyak tiga kali dan beliau bersabda : “Sesungguhnya yang demikian lebih memuaskan, lezat, dan mudah ditelan, serta lebih selamat.” (HR. Muslim, Ahmad, Bukhari, Abu Daud, At Tirmidzi, Ibnu Majah, dan selain mereka)

Dalam hadits di atas dijelaskan bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bernafas tiga kali ketika minum. Dan tidaklah beliau bernafas di dalam bejana atau gelas yang dipakainya ketika minum melainkan beliau menjauhkan gelas atau yang semisalnya dari mulutnya dan bernafas di luarnya, kemudian beliau melanjutkan minumnya. Hal ini dijelaskan di dalam hadits yang shahih bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Apabila salah seorang di antara kalian minum maka janganlah ia bernafas di dalam gelas, akan tetapi hendaklah ia menjauhkan tempat minumnya dari mulutnya.” (HR. Ibnu Majah, shahih dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu)

Dari Abu Qatadah radhiallahu 'anhu bahwasanya Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam melarang bernafas di dalam bejana (ketika minum, pent.). (Muttafaqun ‘Alaihi)

Adab yang beliau Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam ajarkan kepada umatnya sangatlah berfaedah bagi mereka jika mereka mau mengamalkannya, karena cara minum seperti ini lebih memuaskan dan menghilangkan dahaga/haus dengan lebih sempurna. Dan cara ini juga aman dari kerusakan-kerusakan yang bisa terjadi dengan minum sekali teguk. Karena minum hanya dengan sekali teguk hingga selesai tanpa diselingi dengan bernafas dapat memadamkan suhu panas di dalam tubuh atau melemahkannya sehingga bisa menyebabkan rusaknya kestabilan lambung dan hati, kemudian mengakibatkan munculnya penyakit-penyakit yang kronis khususnya di negeri yang bersuhu panas atau pada musim-musim panas.

Selain dampak negatif yang telah dijelaskan tadi, minum dengan sekali teguk dapat menutup tempat jalan air karena banyaknya air yang melewatinya, sehingga menyebabkan tercekiknya tenggorokan. Maka apabila minum dengan beberapa kali teguk dampak negatif tersebut --Insya Allah-- tidak terjadi.

Perlu diketahui tatkala seseorang sedang minum, maka seketika itu pula naik/menguap uap panas yang ada di dalam lambung dan hatinya karena masuknya air yang dingin ke dalamnya. Apabila minum hanya dengan sekali teguk hingga selesai terjadilah benturan air yang diminum yang turun ke lambung dengan uap panas yang naik yang berasal dari dalam tubuhnya sehingga keduanya saling dorong yang dapat mengakibatkan tercekiknya tenggorokan.

Sungguh telah dilakukan percobaan ilmiyah bahwa masuknya air dalam jumlah yang banyak tanpa dilakukan dengan bertahap ke dalam limpa/hati dapat menyakitkan dan melemahkan suhu panasnya. Yang demikian dikarenakan terjadinya benturan uap panas di dalam tubuh dengan banyaknya air dingin yang memasukinya.

Selain menjelaskan adab ketika minum, hadits di atas juga menganjurkan untuk hidup bersih, karena ludah, ingus, atau bau yang tidak enak terkadang keluar ketika bernafas, maka dilarang bernafas di dalam gelas ketika minum, terlebih lagi meniup air yang ada di dalam gelas.

Termasuk adab yang paling penting ialah mengucapkan bismillah pada awalnya dan alhamdulillah pada akhirnya sebagaimana yang dijelaskan di dalam hadits-hadits yang dishahihkan oleh Asy Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali di dalam kitab Bahjatun Nadlirin Syarah Riyadlus Shalihin.

Sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam.
Wallahu A’lam.

Doa Iftitah Pada Qiyamul Lail/Ramadlan

Doa Iftitah Pada Qiyamul Lail/ Ramadlan


Ada beberapa tempat disunnahkannya berdoa pada shalat wajib. Tempat-tempat itu antara lain di antara takbiratul ihram dan bacaan Al Fatihah, berdiri i’tidal setelah ruku’, ketika ruku’ dan sujud, duduk antara dua sujud dan doa setelah tasyahud akhir sebelum salam. Demikian keterangan Ibnul Qayyim dalam karya besar beliau Zadul Ma’ad halaman 256 mengenai tempat-tempat doa pada shalat wajib.
Di samping doa iftitah yang dibaca pada shalat wajib, ada juga doa iftitah yang seringkali dibaca pada shalat sunnah pada malam hari atau qiyamul lail saja. Pada bulan Ramadlan shalat ini disebut Qiyamu Ramadlan, sebagaimana yang Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sabdakan :

“Barangsiapa yang menegakkan (shalat tarawih) pada bulan Ramadlan dengan keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah, maka akan diampuni dosanya yang telah lewat.” (HR. Bukhari nomor 250 dan Muslim nomor 759)

Pada kesempatan kali ini kita akan membahas doa tersebut dalam rangka meramaikan qiyamul lail dan sekaligus menyambut bulan Ramadlan yang sudah di ambang pintu. Doa ini seringkali dipanjatkan oleh teladan seluruh manusia, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan dengan demikian kita sedang berusaha menjalani sebab-sebab dikabulkannya doa. Karena, setidaknya ada dua kemungkinan mengapa doa itu terkabul, yaitu dipanjatkan pada waktu shalat di mana pada waktu inilah seseorang sedang berhadapan langsung dengan pencipta-Nya dan bermunajat kepada-Nya dan kedua, doa itu dipanjatkan pada bulan yang penuh berkah dan mulia yang mana Allah menurunkan rahmat-Nya dengan mencurahkan ampunan dosa-dosa pada bulan ini yang tidak dilakukan-Nya pada bulan-bulan lainnya.

Dalam hal ini ada beberapa riwayat tentang doa-doa iftitah yang dibaca Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika shalat sunnah malam hari. Kadangkala beliau membaca doa yang ini dan kadangpula membaca doa yang itu. Karena tidak ada dalil khusus doa iftitah pada bulan Ramadlan, maka kita kembali pada dalil umum yang menyatakan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berdoa iftitah dengan doa itu pada qiyamul lail. Sedangkan Qiyamu Ramadlan (shalat tarawih) termasuk shalat malam, hanya berbeda nama saja. Doa iftitah yang sering dilupakan kaum Muslimin itu antara lain :

1. Membaca doa :
"Ya Allah, Rabb Jibril, Mikail, dan Israfil, Pencipta Langit Dan Bumi, Maha Mengetahui yang ghaib maupun yang kelihatan. Engkau putuskan hukum di antara hamba-hamba-Mu dari apa yang mereka persengketakan. (Karena itu) tunjukkanlah aku kebenaran dari apa yang mereka perselisihkan itu dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Memberi Petunjuk ke jalan yang lurus kepada siapa yang Engkau kehendaki.” (HR. Muslim 1/534 dari Abu ‘Awanah)

2. Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bertakbir sepuluh kali, bertahmid sepuliuh kali, bertasbih sepuluh kali, bertahlil sepuluh kali, dan beristighfar sepuluh kali. Lalu mengucapkan :
“Ya Allah ampunilah aku, tunjukilah aku, berilah aku rezki, dan selamatkanlah aku.” (sepuluh kali).

Kemudian mengucapkan :
“Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kesempitan hari hisab.” (sepuluh kali) (HR. Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, Abu Daud dengan sanad shahih … hasan. Lihat Shifat Shalat Nabi halaman 95)

3. Beliau bertakbir tiga kali lalu mengucapkan :
“Pemilik kerajaan, keperkasaan, kebesaran, dan keagungan.” (HR. Ath Thayalisi dan Abu Daud dengan sanad shahih. Lihat Sifat Shalat Nabi halaman 95)

4. Dari Ibnu Abbas radliyallahu 'anhuma berkata, adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila shalat pada pertengahan malam berkata :
“Ya Allah bagi-Mu-lah segenap puji. Engkau yang menerangi langit dan bumi serta penghuninya. Bagi-Mu-lah segenap puji, Engkau yang menegakkan (menjaga dan memelihara) langit dan bumi beserta penghuninya. Bagi-Mu-lah segenap puji. Engkau Rabb langit dan bumi dan seluruh penghuninya. Bagi-Mu-lah segenap puji, Engkau Maha Benar, janji-janji-Mu benar, firman-Mu benar, pertemuan dengan-Mu benar, Surga benar (adanya), neraka benar (adanya), para Nabi benar, Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam benar, dan hari kiamat benar (akan terjadinya). Ya Allah kepada-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakkal, kepada-Mu aku bertaubat, karena-Mu aku memusuhi musuh-musuh-Mu, kepada-Mu aku berhukum. (Karena itu) ampunilah aku dari apa yang telah kulakukan dan apa yang belum aku lakukan dan apa-apa yang kurahasiakan dan apa-apa yang kuperlihatkan. Engkaulah sembahanku, tidak ada sesembahan yang haq kecuali Engkau.” (HR. Bukhari dengan Fathul Bari 3/3, 11/116, 12/371, 23 dan nomor 465. Muslim dengan ringkas 1/532)

Adab-Adabnya

Disebutkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shifat Shalat Nabi halaman 95 catatan kaki nomor 1 bahwasanya penyebutan riwayat-riwayat ini sebagai doa iftitah dalam shalat malam tidak menafikan disyariatkannya dalam shalat-shalat fardlu. Artinya doa-doa ini bisa juga dibaca dalam shalat-shalat fardlu.

Kemudian Imam Nawawi menerangkan lebih lanjut dalam kitabnya Al Adzkar halaman 76 setelah membawakan riwayat-riwayat tentang doa iftitah, sebagai berikut :
“Ketahuilah sesungguhnya dzikir-dzikir ini mustahab dilakukan dalam shalat-shalat fardlu dan nafilah. Sekiranya seseorang tidak membacanya pada rakaat pertama karena lupa atau sengaja, maka ia tidak boleh membacanya setelah itu karena tempatnya telah lewat. Sekiranya ia lakukan maka (hukumnya) makruh dan shalatnya tidak batal. Sekiranya ia makmum masbuq dan mendapati imam pada salah satu rakaat, maka ia membacanya kecuali bila khawatir tersibukkan dengannya hingga luput membaca surat Al Fatihah karena lebih ditekankan dan wajib sedangkan doa iftitah hukumnya sunnah. Sekiranya si makmum masbuq mendapati imam pada posisi selain berdiri, seperti ruku’, sujud, atau tasyahud, maka ia takbiratul ihram dan ikut bersama imam pada posisi dan dzikirnya. Dalam keadaan demikian janganlah ia membaca doa iftitah dan jangan pula pada rakaat-rakaat selanjutnya. Para shahabat kami berbeda pendapat dalam hal istihbab-nya doa iftitah dalam sahalat jenazah namun yang lebih shahih adalah bahwasanya tidak mustahab sebab shalat jenazah dibangun di atas takhfif dan ketahuilah sesungguhnya doa iftitah (hukumnya) sunnah bukan wajib. Sekiranya seseorang tidak membacanya, ia tidak perlu sujud sahwi dan sunnahnya dibaca secara sirr, makruh (hukumnya) dibaca secara jahar tapi tidak membatalkan shalat.”

Penutup

Sedemikian banyak tempat berdoa dalam shalat baik shalat wajib maupun sunnah, sebagaimana yang telah disebutkan Ibnul Qayyim di muka, yang mana doa diharapkan mudah terkabul jika dipanjatkan pada tempat-tempat tersebut. Karena pada waktu shalat terdapat hubungan langsung antara Rabb dan hamba-Nya bahkan terdapat hubungan yang paling dekat antara Allah dan hamba-Nya yaitu ketika sedang sujud. Sehingga apabila seorang telah memutuskan shalatnya berarti terputuslah hubungannya dengan Allah secara langsung. Akan tetapi sangat disayangkan keadaan yang mulia ini sudah banyak dilupakan oleh sebagian besar kaum Muslimin saat ini. Mereka lebih khusu’ dan serius manakala berdoa di pekuburan wali-wali, bangunan-bangunan di atas kubur, pohon keramat, di depan patung atau foto-foto tokoh yang telah wafat atau bahkan yang masih hidup dan lain tempat yang justru dilarang syariat.

Terakhir kita nasehatkan kepada kaum Muslimin dalam rangka meramaikan ibadah di malam hari dan bulan Ramadlan yang akan datang nanti, hendaknya mereka kalau mau berdoa, berdoalah sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan memperhatikan adab, tempat, dan waktu terkabulnya doa yang antara lain telah disebutkan di atas. Semoga kita tergolong orang yang terkabul doanya. Amin.

Wallahu A’lam.
Maraji’ :
1. Shifat Shalat Nabi. Syaikh Al Albani.
2. Al Adzkar. Syaikh Imam An Nawawi.
3. Shahih Muslim.
4. Fathul Bari. Ibnu Hajar.
5. Shahih Al Kalimat Thayibah. Syaikh Al Albani.
6. Zadul Ma’ad. Imam Ibnul Qayim Al Jauziyah.
7. Bahjatun Nadzirin. Syaikh Salim Al Hilali.